Ferry Arbania adalah seorang Wartawan Harian Koran Memorandum Jawa Pos Group, Announcer Radio Nada FM Sumenep, Penggiat Sanggar Kopi Madura, Profesional MC dan Penulis Sastra berupa Puisi, Cerpen dll.

Friday, October 21, 2011

Bojonegoro 44 Derajat Celsius, Suhu Makkah Kalah

|Ferry Arbania|Boleh percaya boleh tidak, suhu udara di Kota Bojonegoro, Kamis (20/10), mencapai 43,8 derajat Celsius. Ini melampaui suhu udara di Makkah, Arab Saudi, yang kemarin hanya 40 derajat Celsius.
Hasil pengukuran yang dilakukan petugas Bagian Lingkungan Hidup Pemkab Bojonegoro menunjukkan bahwa suhu udara di tempat terbuka pada pukul 12.00 WIB kemarin mencapai 110,1 derajat Fahrenheit atau 43,8 derajat Celsius.
Demikian pula di tempat teduh, yakni di bawah pohon di lingkungan kantor pemkab, menunjukkan 102,7 derajat Fahrenheit atau 39,2 derajat Celsius. Udara panas menyengat ini membuat warga merasa gerah.
“Sebaiknya warga mengurangi aktivitas di luar rumah, karena dalam beberapa hari ini suhu di luar rumah cukup panas,” kata Kabag Lingkungan Hidup Pemkab Bojonegoro Suharto, Kamis (20/10).
Suharto mengaku tidak punya pembanding suhu udara tertinggi pada tahun-tahun sebelumnya di Bojonegoro. Karenanya, ia tak berani menyimpulkan bahwa suhu udara kemarin itu paling ekstrem atau tidak.
Menurut Suharto, panas ini tak lepas dari semakin banyaknya hutan gundul. Karena sebagian besar lahan berupa tanah berkapur, maka saat musim kemarau seperti sekarang ikut memantulkan panas. “Apakah pembakaran gas di lapangan Sukowati di daerah Soko, Tuban, turut menyumbang suhu udara panas, saya kurang tahu,” katanya.
Gerahnya suhu udara juga dirasakan Bupati Suyoto, yang bersama rombongan tengah menyampaikan bantuan kepada korban kebakaran rumah di Desa Sidorejo, Kecamatan Kedungadem.
Suhu udara di kendaraan yang ditumpangi bupati saat melintasi Kecamatan Kedungadem dan sekitar pada pukul 14.00 WIB mencapai 40 derajat Celsius. “Tak heran kalau saat di luar tadi semua orang kegerahan,” katanya.
Suryanto, warga Desa Sukorejo, Kecamatan Kota, mengatakan, dalam beberapa hari terakhir ini ia terpaksa menyirami halaman rumahnya dengan air. “Selain mengurangi panas, juga menghindari debu beterbangan,” katanya.
Wahyu, warga Kota Bojonegoro, menyatakan selama puluhan tahun tinggal di wilayah ini baru sekarang merasakan suhu udara paling panas. “Di dalam rumah saja tetap panas kalau hanya pakai kipas angin. Harus pakai AC,” ujarnya.
Sejak ada beberapa perusahaan pengeboran minyak, kata Wahyu, udara di Bojonegoro memang terasa lebih panas dibanding sebelumnya. “Tapi, apakah mereka penyebabnya, saya tidak tahu,” paparnya
Joko, juga warga kota, menyatakan suhu udara memang panas. “Di luar, udara terasa sangat menyengat. Sedangkan di dalam ruangan, sangat sumuk (gerah), karena saya selalu lepas baju,” ujarnya. Anak-anak, lanjut Joko, mulai suka tidur di lantai ruang tamu, karena di kamar sangat gerah.
Para lelaki tidak memakai baju saat di rumah atau di luar, mulai jadi pemandangan biasa dalam beberapa pekan terakhir. Ainur, warga Kecamatan Kapas, menyatakan udara di sekitar rumahnya lebih panas dibanding di tempat lain karena berhadapan dengan rel kereta api.
Menurut Ainur, Bojonegoro lebih panas ketimbang Tuban, Lamongan, dan daerah lain di sekitarnya. Ia memilih rutin menyirami halaman rumahnya untuk mengurangi panas.
Kalau memang benar suhu udara di Bojonegoro mencapai 43,8 derajat Celsius, maka rekor ini melampaui Makkah di Saudi Arabia yang memang terkenal panasnya. Catatan timeanddate.com, Kamis (20/10) menunjukkan bahwa suhu udara di kota suci itu mencapai 40 derajat Celcius (pukul 14.29 waktu setempat). Ini melampaui suhu di Doha 38 derajat Celcius (pukul 14.43), Madinah 36 derajat Celcius (pukul 14.31), dan Riyadh 36 derajat Celcius (pukul 14.30).
Suhu Bojonegoro itu tentunya juga di atas sengatan mentari di Padang Arafah, tempat berkumpulnya sekitar tiga juta umat Islam dari seluruh dunia yang tengah melaksanakan wukuf. Seperti dilaporkan Antara, Selasa (18/10), suhu udara di padang gurun seluas 5,5×3,5 kilometer persegi itu mencapai sekitar 38-42 derajat Celcius.
Itu sebabnya, para jemaah haji cepat letih. Maklum, Padang Arafah sangat gersang dan hanya sedikit terdapat bangunan, karena di luar musim haji, nyaris tidak ada manusia yang singgah ke situ. Beruntung ada rerimbunan pohon mindi yang bisa dipakai berteduh. Jemaah biasa menyebutnya sebagai “Pohon Soekarno’ karena memang memang mantan presiden RI itulah yang pertama kali menanamnya di sana.
Namun, apakah suhu 43,8 derajat Celsius itu suhu tertinggi yang pernah terjadi di muka bumi? Berdasar catatan, rekor suhu tertinggi pernah dicapai di kawasan Al ‘Aziziyah, Sahara, Libya, yakni 57,8 derajat Celcius. Ini terjadi pada 13 September 1922.
Al ‘Aziziyah adalah kota di Distrik Al Jfara, di barat laut Libya, 55 kilometer (34 mil) barat Tripoli. Al ‘Aziziyah merupakan pusat perdagangan utama dari dataran tinggi Jeffare Sahel, berada di jalur perdagangan dari pantai ke Pegunungan Nafusa dan wilayah Fezzan ke selatan.
Rekor berikut dicatat Death Valley, Amerika Serikat. dengan suhu udara 56,7 derajat Celcius pada 10 Juli, 1913. Death Valley adalah padang pasir di Timur California, di Gurun Mojave, lokasi paling kering, dan terpanas di Amerika Utara.
Rekor berikut dicatat kawasan tandus Mitraba di Kuwait utara yang pada 15 Juni 2010 suhu udaranya mencapai 55 derajat Celcius. Ini disusul Tirat Zvi, Israel, yang pada 21 Juni 1942 mencatat suhu 53,9 derajat Celcius, dan Mohenjo-daro, Pakistan, yang pada 26 Mei 2010 mencatat 53,5 derajat Celcius.
Suhu udara panas mengingatkan kita pada bencana gelombang panas. Seperti terjadi di kawasan tengah dan timur Amerika Serikat dan Kanada Juli 2011 lalu, gelombang panas dengan suhu mencapai 37 derajat Celcius telah menewaskan sedikitnya 22 orang per 22 Juli 2011. Gelombang ini merupakan perpaduan antara suhu udara yang panas dengan tingkat kelembapan tinggi. Gelombang panas rutin terjadi di Amerika Serikat dan rata-rata menewaskan 162 orang setiap tahun.
Hawa panas selama dua bulan juga telah menewaskan 66 warga Jepang dan mengirim sekitar 15.000 orang ke rumah sakit. Separo dari korban tewas saat berada di dalam ruangan, dalam bencana yang terjadi akhir Juli 2010 itu. Saat itu udara bersuhu sekitar 35 derajat Celcius berpadu dengan kelembapan udara tinggi.
Mengapa suhu udara jadi tidak bersahabat? Beberapa sumber menyebut hal itu terkait terjadinya pemanasan global alias global warming di muka bumi. Selama seratus tahun terakhir, suhu rata-rata global pada permukaan bumi telah meningkat 0.74 ± 0.18 derajat Celcius (pro-kontra). Ini kemungkinan besar terjadi karena meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca akibat aktivitas manusia.
Gas rumah kaca adalah gas-gas di atmosfer yang menyebabkan efek rumah kaca. Gas-gas ini sebenarnya muncul secara alami di lingkungan, tetapi dapat juga timbul akibat aktivitas manusia. Yang paling banyak adalah uap air yang mencapai atmosfer akibat penguapan air dari laut, danau, dan sungai.
Karbondioksida adalah gas terbanyak kedua yang timbul akibat letusan vulkanik, pernapasan hewan dan manusia (menghirup oksigen dan mengembuskan karbondioksida), serta pembakaran material organik (seperti tumbuhan). Gas CO2 ini dapat berkurang karena terserap lautan dan tanaman untuk fotosintesis.
Semua sumber energi di bumi berasal dari matahari. Sebagian besar energi berbentuk radiasi gelombang pendek, termasuk cahaya tampak. Ketika energi ini tiba permukaan bumi, ia berubah dari cahaya menjadi panas yang menghangatkan. Permukaan bumi akan menyerap sebagian panas dan memantulkan kembali sisanya. Sebagian dari panas ini berwujud radiasi inframerah gelombang panjang ke angkasa luar. Namun, sebagian panas tetap terperangkap di atmosfer bumi akibat menumpuknya jumlah gas rumah kaca.
Gas-gas ini menyerap dan memantulkan kembali radiasi gelombang yang dipancarkan bumi dan akibatnya panas itu akan tersimpan di permukaan bumi. Keadaan ini terjadi terus menerus sehingga mengakibatkan suhu rata-rata tahunan bumi terus meningkat.
Dengan semakin meningkatnya konsentrasi gas-gas ini di atmosfer, semakin banyak panas yang terperangkap di bawahnya.
Efek rumah kaca sebenarnya sangat dibutuhkan oleh segala makhluk hidup yang ada di bumi, karena tanpanya, planet ini akan menjadi sangat dingin. Dengan suhu rata-rata sebesar 15 derajat Celsius, bumi sebenarnya telah lebih panas 33 derajat Celsius dari suhunya semula, jika tidak ada efek rumah kaca suhu bumi hanya -18 derajat celcius sehingga es akan menutupi seluruh permukaan bumi. Akan tetapi sebaliknya, apabila gas-gas itu telah berlebihan di atmosfer, akan mengakibatkan pemanasan global.
Untuk menghindari pemanasan global, manusia perlu meminimalkan meningkatnya efek rumah kaca dengan menghijaukan lingkungan sekitar dan mengurangi terjadinya pencemaran udara dan lingkungan.
Sumber: Antara
Searching: Surya



Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

 
Free Host | lasik surgery new york