SAHABAT FERRY ARBANIA

Linda Djalil Lahirkan Puisi Jurnalistik

Mantan wartawan Linda Djalil
by: Ferry Arbania[JAKARTA] Menulis puisi dengan gaya reportase jurnalistik memberikan warna tersendiri dalam dunia seni sastra. Lebih dari 100 puisi telah dihasilkan oleh mantan wartawan berita Tempo dan Gatra, Linda Djalil. Setelah pensiun dari wartawan, hampir sertiap hari Linda memposting puisi di dunia maya ke kompasiana.com.

"Puisi itu bersayap, berbunga, berduka dan bergembira, duka penulis bisa jadi sukacita pembaca," tutur Linda kepada SP dalam acara peluncuran bukunya berupa kumpulan puisi jurnalistik berjudul 'Cintaku Lewat Kripik Balado', di Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin, Jakarta, Kamis (23/6).

Buku tersebut berisikan tentang berbagai puisi yang berkaitan erat dengan peristiwa ketika Linda masih berprofesi sebagai wartawan. Ada cerita skandal remaja seorang anak band ('Hai Anak Muda, Terdiri dari Batukah Hatimu'), tentang kata-kata kotor yang keluar dari mulut wakil rakyat di DPR ('Ada Air Dingin, Gayus, dan Ruhut'), puisi tentang Istana yang berhantu ('Mungkin Kata SBY, Istana Memang Tak Nyaman untuk Kediaman'), dan puisi-puisi lain.

Pada acara peluncuran buku tersebut, Linda mengundang nama-nama seperti Taufik Ismail, Indro Warkop, Halida Hatta, Melanie Sadono, Ratna Riantiarno, Jajang C. Noer, untuk membaca puisinya. Secara bergantian mereka membaca puisi dengan ekspresi penyampaian yang berbeda. Acara juga dilanjutkan dengan diskusi santai dengan pembicara, Yudhistira Massardi, Eep Saefuloh Fatah, Linda Djalil, dan dimoderatori oleh Sandrina Malakiano. Linda juga menyanyikan lagu 'Wanita Perkasa', suara merdu mengalun, undangan pun menyambut dengan tepuk tangan.

"Dia menulis tentang keluarga, respons terhadap masyarakat dan hubungan dengan Yang Maha Penciptga. Ibarat ukiran puisi, Linda Dajlil sudah jelas sosoknya, namun perlu dipahat dan diamplas lebih lama, direnungkan lebih jauh. Ketekunannya dipujikan," ungkap Penyair Taufik Ismail.

Sementara pemerhati sosial budaya Halida Hatta mengatakan, sebagai ungkapan isi hati dan ekspresi pikiran, rangkaian puisi Linda Djalil terasa sejuk bagai tetesan embun menjelang fajar. Dikatakan, isi puisi begitu murni, lembut, menggugah kalbu. Penggunaan kosakata yang luas, dirajut menjadi rangkaian eskpresi tertulis dan mengalir, adalah bentuk sumbangan LInda Djalil kepada Sastra Indonesia. "Puisi Linda membuktikan ketersediaan Bahasa Indonesia sebagai pengantar utuh untuk ungkapan pikir dan rasa," kata Halida. [CKP/A-21]
Share on Google Plus

About FERRY ARBANIA

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar:

Post a Comment

Ferry Arbania , Sahabat Indonesia