Wednesday, February 19, 2020

Menjadi Jurnalis Itu Takdir

Sejak kelas empat Madrasah Ibtidaiyah di kampung halaman, hari-hari kecil saya selalu diajar oleh guru dan lingkungan keluarga untuk selalu memahami apa itu manusia, kenapa harus sekolah, kenapa pulaperlu belar akhlak dan bertatakrama?
Selebihnya, orang-orang didekat saya, guru dan lingkungan religi, secara tak langsung mengajariku untuk memahami keadaan, meski kuyakin seusiaku dulu tak mampu memahaminya dengan baik. Namun satu hal yang sampai sekarang membekas, yakni sajak cinta dan puisi kehidupan. Hari-hari oenuh puisi hingga jurusan sastra di ruang kampus. Tapi.. Entahlah, Tuhan "menyeret" ku kedalam kubangan Jurnalis yang penuh sakwa sangka. Sampai pada bertamu sesungguhnya, ada mata dan hati yang menyelipkan curiga sembari membisik orang disekitarnya, "Hati-hati bicara,yang ngomong sama kita ini wartawan loh", kira-kira begitylu redaksinya. Sedih juga sih, kalau niat tulus bersilaturrahim kemudian dicurigai sebagai "pemancing dan perekam" pembicaraan". Dunia profesi yang berkaitan dengan berita-berita ini sungguh jauh berbeda dengan "alam" puisi yang penuh imajenasi tanpa tersakiti. Bahkan Lebih bersahabat orang-orang itu ketika saya masih sibuk sebagai pwnulis puisi dan penyiar radio yang punya ribuan fans setia selama bertahun-tahun.

Apakah aku menyesal jadi jurnalis? Sepertinya tidak dan justru sangat tertantang. Di dunia wartawan inilah puisi dan kemampuan diksiku semasa jadi penyiar radio bermanfaat "plus". Kenapa begitu?  Karena selama menjadi wartawan, Alhamdulillah saya diberi kekuatan oleh Allah swt untuk menjadikannya sebagai media dakwah dalam mengungkap kebenaran dan membela orang-orang tertindas, meski kadang harus jatuh bangun tak kebagian kue iklan. Maklum, beritanya terlalu "Memukul" (bersambung)

*maaf kl banyak yg salah ketik. Sengaja tdk diedit krn lg sibul bikin video Youtube #MaduraExpose

0 comments:

Post a Comment

Ferry Arbania , Sahabat Indonesia