Thursday, February 20, 2020

Jurnalis Dan "Binatang" Yang Diberi Harkat Manusia

|Ferry Arbania|

Bagi kalangan koruptor ataupun pelaku kriminal hingga penjahat kelamin lainnya, kehadiran para jurnalis (bisa jadi) dianggap  sebagai gerombolan "binatang" (baca:Akulah Binatang Jalang seperti sajaknya Chairil Anwar) yang kerap pembawa sial sekaligus dinilai sebagai pengacau bagi kepentingan konspirasi besar mereka.
" Yah itu pasti ada yang menyebut (baca:menyumpahi) kita dengan sebutan binatang. Tak apalah!  kalaupun ada yang setega itu. Bisa jadi pula mereka itu  tak terima kejahatannya di publikasi dalam bentuk berita. Saya memang Jurnalis dan saya adalah binatang," demikian kira-kira dialog imajenir saya dengan para jahannam itu. Astaghfirullah.
Tapi...  Kalau di pikir-pikir, kita semua ini memang binatang yang disempurnakan oleh Allah Swt menjadi paling indahnya mahluk. Derajat kemahlukan kita pun diangkat dengan dipasangnya akal dalam otak manusia. Akal inilah yang kemudian menjadi pembeda antara binatang beneran dengan kita yang dipercayai Allah SWT sebagai khalifah di muka bumi. Lantas kenapa masih bersemayam sifat-sifat binatang dalam diri kita, dalam karya-karya jurnalistik kita yang kadang juga "dibinatangi" oleh para penjahat intelektual itu? 
Jawabnya hanya satu, " Penghianat! " Berhianat atas apa dan siapa yang dihianati?  Kalian disini, dalam kalimat yang baru saja saya penggal ini, adalah kumpulan jiwa-jiwa yang rakus, penjilat dan mungkin menjadi barisan pengemis yang menyaru jadi jurnalis. Siapa jurnalis yang mengemis itu?
Jawabnya tinggal satu, yakni kalian yang menjadikan berita sebagai alat untuk mengeruk keuntungan. (Yang tidak berkhianat silahkan senyum bangga deh... Heee heee..)
Maka disinilah, ketika ada yang menyebut jurnalis, wartawan,kuli tinta, juru kamera ataupun reporter binatang, maka berbahagialah. Dengan begitu, berarti kemanusiaan kita sudah teruji. Dan tak perlu lagi "Uji kompetensi Jurnalistik", sebab berita bukanlah ajang kompetisi.  Berita yang yang lahir dari tangan jurnalis yang menengadahkan tangan kepada ketentuan Tuhannya, (bukan kepada kekuasaan), maka disiniah KODE ETIK JURNALISTIK yang sebenarnya memahkotai.
Sampai akhirnya, legitimasi tertinggi dalam penentu media abal-abal dan kredibel itu adalah menjadi hak publik. Publik paling jujur menilai kerja keras para jurnalis. Lantas, untuk apa kita marah pada segelintir maling berdasi, sumpah serapah para koruptor? Bukankah sudah sangat jelas maqamnya. Kebenaran telah menjadi pembeda yang sangat jelas anatar Jurnalis versus Binatang. Bahkan dengan kualitas kemanusiaan kita yang tak pandai menyembunyikan kepalsuan.
Teruslah berkarya sahabat Jurnalis, biarkan binatang itu keluar dari mulut mereka yang sakit. Maka apa maksud dari judul tulisan ini yang sengaja saya beri judul : Jurnalis dan "Binatang" Yang Diberi Harkat Manusia.  Maksudnya adalah untuk kembali mengingtkan diri kita yang lahir tanpa sehelai benangpun apalagi profesi Jurnalis. Maka,  kesimpulannya adalah, jangan sampai kita kembali menjadi binatang hanya karena berprofesi jurnalis. 
Percayalah,  sesuai dengan fitrahnya, Pengertian  "Harkat manusia" dalam judul tulisan ini adalah sebagai alarm, bahwa sebenarnya kita semua memiliki harkat atau nilai sebagai mahluk Tuhan yang dibekali dengan daya cipta, rasa, dan karsa serta hak - hak dan kewajiban asasi manusia "Mator Sakalangkong". (*)

0 comments:

Post a Comment

Ferry Arbania , Sahabat Indonesia