SAHABAT FERRY ARBANIA

Kesastraan Kalsel Sebelum, Semasa dan Sesudah tahun 70-an

|Ferry Arbania|
Alhamdulillah aku masih menyimpan buku Data-Data Kesenian Daerah Kalsel yang berupa stensilan yang diterbitkan Depdikbud Kan.Wil Prov.Kalsel, Proyek Pusat Pengenbangan Kesenian Kalsel 1975/1976, karena pada tahun 90-an kantor ini terbakar, arsip Data Seni Budaya yang lainnya entahlah apakah dapat diselamatkan. Buku ini sangat penting untuk mengetahui perkembangan kesastraan Kalsel pada masa itu.

Tulisan ini khusus mengetengahkan data perkembangan kesastraan Kalsel merujuk pada buku Data-Data Kesenian Daerah Kalsel tersebut.

Perkembangan kesastraan Kalsel tentu saja tidak terlepas dari perkembangan kesastraan Indonesia, karena sastrawannya ikut memberikan andilnya bagi perkembangan kesastraan Indonesia. Ini tampak dalam periode - periode perkembangannya dari masing- masing periode tersebut. Periode – periode tersebut adalah :
1. Periode Sebelum Perang
2. Periode Pendudukan Jepang / Revolusi Fisik
3. Periode Tahun 50-an
4. Periode Tahun 60-an
5. Periode Tahun 70-an

1. Periode Sebelum Perang

Pada periode ini yang paling menonjol adalah Merayu Sukma ( nama aslinya : Muhammad Sulaiman ). Ada beberapa bukunya yaitu :
Putra Mahkota Yang Terbuang ( roman sejarah ), Yurni Yusri ( roman detektif ), Kunang-Kunang Kuning ( roman detektif ), Sinar Memecah Rahasia ( roman detektif ), Berlindung dibalik Tabir ( roman ), Jiwa yang Disiksa Dosa (roman), dan Jurang Meminta Korban ( roman ). Hampir semua bukunya diterbitkan di Medan. Sayangnya buku-bukunya ini tidak dicetak ulang sehingga sulit didapat. Masa produktifitasnya terhenti ditahun 50-an sampai akhir hayatnya.

Penulis lainnya adalah Arthum Artha karyanya berupa cerpen banyak dimuat di majalah Terang Bulan (Surabaya). Selain cerpen ia menulis roman antara lain : Gadis Zaman Kartini ( Gemilang,1949,Kandangan), Tahanan Yang Hilang ( Pustaka Dirgahayu,1950, Balikpapan), Kepada Kekasihku Rokhayanah ( Mayang Mekar,1951,Banjarmasin). Puisi-puisinya juga bertebaran di majalah Mimbar Indonesia, Siasat/Gelanggang, Indonesia, Pelopor, Mutiara, Zenith,Gajahmada dan lain-lain.

Pada periode ini muncul Maseri Matali (Kandangan) dan puncak karyanya menjelang akhir revolusi fisik sampai tahun 1952. Ia satu-satunya Penyair Kalsel yang disoroti kritikus HB Yassin. Puisi-puisinya umumnya dimuat di Mimbar Indonesia, Pancawarna, Waktu dan Bakhti. Ia dianggap penyair yang kuat pada zamannya. Ia tidak sempat menerbitkan semua karyanya dalam satu antologi. Tetapi setahun setelah ia wafat (1969), sebanyak 15 puisinya dibukukan oleh D.Zauhidhie dkk. dalam judul “ Nyala “ (stensilan).
Muncul di periode ini seperti, M.Yusuf Aziddin, Mugeni Jafri, Haspan Hadna. Karya-karya mereka hampir tak pernah dibaca oleh generasi berikutnya karena di samping tidak banyak juga tidak pernah dibukukan.

2. Periode Pendudukan Jepang / Revolusi Fisik

Disamping sastrawan terdahulu masih berkarya, diperode ini muncul sederetan nama antara lain, Aliansyah Luji ( penyair,prosais, Banjarmasin), Zafri Zamzam ( penyair, Banjarmasin ), H.Ahmad Basuni ( cerpenis, Banjarmasin ), SM Darul ( penyair, Kandangan ), Masdan Rozhani ( penyair, cerpenis, Kandangan ), Asycor Z (Asyikin Noor Zuhri, penyair, Jakarta ).

Yang paling produktif pada periode ini, menjelang dan sesudah tahun 50-an adalah Alinsyah Luji. Banyak puisinya di majalah Mimbar Indonesia, Siasat/Gelanggang, Mutiara dan lain-lain. Romannya antara lain, Memperebutkan Mawar di Candi Agung ( Getaran Masyarakat,1955,Banjarmasin), Intan Berlumur Darah ( Fa.Widya,1956, Bandung ) dalam dua jilid.

Puisi – puisi Asycor Z (Asyikin Noor Zuhri) dan SM Darul dimuat dalam majalah Mimbar Indonesia menjelang dan sesudah tahun 50-an.

3. Periode Tahun 50-an

Semarak dalam berkarya pada periode ini setelah bermunculan sastrawan-sastrawan muda. Hal ini karena sarana – sarana penerbitan sangat menunjang seperti Mimbar Indonesia, Indonesia, Siasat/Gelanggang, Budaya, Konfrontasi, Merdeka/Genta, Kisah,Roman, Basis, Media, Gajahmada, serta surat kabar baik di Jakarta mau pun di Kalsel sendiri.

Umumnya sastrawan muda tersebut adalah penyair dengan sederetan nama seperti Ramtha Martha nama aslinya Rahmad Marlin ( Martapura ), Darmansyah Zauhidie (Kandangan ), Hijaz Yamani ( Banjarmasin ), Azn.Ariffin ( Banjarmasin ), Yiustan Aziddin ( Banjarmasin ), Dachri Oskandar ( Banjarmasin ), Syamsul Suhud ( Banjarmasin ), Mugeni HM ( Banjarmasin ), Taufiqurrahman ( Banjarmasin ), Syamsul Bachriar AA ( Jakarta ), Abdul Kadir Ahmad ( Banjarmasin ), Syamsiar Seman ( Barabai ), Salim Fachry ( Kandangan ), Ardiansyah M ( Banjarmasin ), Gapfuri Arsyad ( Banjarmasin ), Rustam Effendi Karel ( Banjarmasin ), Korsen Salman ( Banjarmasin ), Imran Mansur ( Banjarmasin ), Gumberan Saleh ( Banjarmasin ), Adham Burhan ( Banjarmasin ), dan Sir Rosihan ( Sayarkawi, Banjarmasin).

Disamping penyair juga cerpenis seperti, Hijaz Yamani, Syamsiar Seman, Adham Burhan, Ramtha Martha dan Yustan Aziddin. Sedang Gumberan Saleh juga menulis novel. Sebelum menulis puisi Yustan Aziddin lebih dulu menulis cerpen untuk “cerita minggu pagi"pada RRI Banjarmasin dan juga sandiwara radio. Pada tahun 50-an Ramtha Martha khusus menulis cerpen yang dimuat di “Mimbar Indonesia” dan “Kisah”.

Banyak penulis pada periode ini yang lahir dan tumbuh namun tidak bisa bertahan dan berhenti sama sekali sampai pada periode berikutnya, kecuali beberapa orang seperti D.Zauhidhie, Hijaz Yamani, Ramtha Martha dan Salim Fachry. Sedangkan Yutan Aziddin dan Adham Burhan lama istirahat kemudian berkarya lagi ditahun 70-an. Yustan Aziddin, Adham Burhan dan Hijaz Yamani ikut dalam 19 penyair Banjarmasin ( Panorama,1974, DKD Kalsel ).

Banyak penulis pada periode ini tidak sempat membukukan sendiri hasil karya mereka, kecuali D,Zauhidhie ( Imajinasi ) dan Syamsiar Seman ( Bingkisan Pagi ) dan Gumberan Saleh novelnya ( Affair di Tanjung Silat ).

Syamsiar Seman lebih produktif lagi sampai tahun 2000-an dengan beberapa buah buku baik berupa pantun Banjar, cerita rakyat, Peribahasa Banjar, dan adat istiadat Banjar yang diterbitkan oleh penerbit lokal. Buku-bukunya menjadi bahan ajaran mata pelajaran muatan lokal di sekolah.

Pada tahun 1963 terbit kumpulan puisi “ Perkenalan di dalam Sajak” diterbitkan oleh CV.Himmah Banjarmasin yang diprakarsai oleh Yustan Aziddin dan Syamsul Suhud.
Penyairnya yang tergabung menurut wilayah geografis dan kurun kepenyairannya . Ini merupakan antologi penyair-penyair Kalimantan baik periode pendudukan Jepang/revolusi fisik, 50-an, dan 60-an, serta penyair Kalbar,Kalteng dan Kaltim.

4. Periode Tahun 60-an
Pada periode ini tidak banyak muncul sastrawan baru. Yang muncul seperti, A.Shafwani Ibahy ( Banjarmasin ), Mh.Hadhariah Roch ( Banjarmasin ), Murjani Bawy ( Banjarmasin ), Andi Amrullah (Banjarmasin ). Mereka semua penyair. Mereka tidak sempat membukukan karyanya sendiri kecuali dalam Perkenalan di dalam Sajak. Mh Hadhariah Roch ikut dalam Panorama. Sedangkan Andi Amrullah ketika masih studi di Malang bersama penyair-penyair Jawa Timur dalam kumpulan Laut Pasang ( Pemda Kotapraja Surabaya,1963 ). Kemudian ia menerbitkan sendiri antologi puisinya Demi Buah Tin dan Zaitun (1974).

5. Periode Tahun 70-an

Pada periode ini, sangat terasa hiruk pikuknya kesastraan Kalsel karena bertumbuhannya sastrawan baru dengan ramainya penciptaan sastra terutama puisi. Umumnya karya mereka termuat di harian surat kabar di Banjarmasin seperti bulanan kebudayaan “Bandarmasih” dan rubrik – rubrik “Persepektif” dari Banjarmasin Post, “Dian” pada “Media Masyarakat”, dan juga “Dinamika”, hanya Ayamuddin Tifani dan Eza Thabri Husano di majalah Mimbar dengan ruang budayanya “Matahari”.

Yang muncul pada periode ini : Ayamuddin Tifani ( Banjamasin ), Arsyad Indradi ( Banjarmasin ), Eza Thabri Husano ( Banjarbaru ),Ismed M.Muning nama aslinya Ismail Effendi ( Banjarmasin ), Hamami Adaby ( Banjarbaru ), Ibramsyah Barbary ( Banjarmasin ), A.Rasidi Umar ( Banjarmasin ), Sabri Hermantedo ( Banjarmasin ), Backtiar Sanderta ( Banjarmasin ), Ajim Ariyadi ( Banjarmasin ), Swastinah MD ( Banjarmasin ), Ulie S.Sebastian ( Banjarmasin ), A.Ruslan Barkahi ( Negara ), Arifin Hamdie ( Banjarmasin ), A.Mujahiddin S ( Banjarmasin ), S.Surya ( Banjarmasin ), Ibrahim Yatie ( Banjarmasin ), A.Rachman ( Banjarmasin ), M.Armin Azhardhie ( Banjarmasin ), Johan Kalayan ( Banjarmasin ), Abdul Karim Amar ( Banjarmasin ), Abdussamad SA ( Negara ),

Kemudian sederetan nama tersebut di atas, menyusul nama-nama seperti, Nayan Muhamad (Yan Pieter AK,Banjarmasin ), Hamberan Syahbana ( Hamberan Basuwinda, Banjarmasin ), Haderawi Yose ( Banjarmasin ), A’ans Anjar Asmara ( Banjarmasin ), Annie Mienty ( Banjarmasin ), Masry A.Gani ( Pagatan/Kotabaru), Amiddin B.Fuad ( Pleihari ), Amansyah Noor ( Negara ), Suriansyah Ramli ( Banjarbaru ), A.Chair Karim ( Banjarbaru ), RA Benawa ( Banjarbaru ), T.Noor Is. Amendy ( Banjarbaru ), Hanna ( Banjarbaru ), Muhammad Rais Salam ( Banjarbaru ), Akhmad Fajeri Astanti ( Banjarbaru ), A.Syahrani Hasyim ( Banjarbaru ), M.Hasfiany Sahasby ( Banjarbaru ), Roek Syamsuri ( Banjarbaru ), Ada sebelas penyair Banjarbaru termasuk Eza Thabri Husano dan Hamami Adaby menghimpun puisinya dalam antologi Puisi Banjarbaru Kotaku yang diterbitkan oleh DKD Banjarbaru.

Penyair - penyair Amuntai HSU juga menghimpun puisinya dalam sebuah antologi puisi Antologi Sajak 10 Penyair Hulu Sungai Utara diterbitkan oleh DKD HSU, yang tergabung di dalamnya yaitu Yusni Antemas, Rosdiansyah Habib, Darmawinata, Amir Husaini Zamzam, Rachman Rosdhy, Alfisamadhi, Asmuri Aman, M.Umairan Baqir, dan Amir Hasan Arsya.

Mereka yang tergolong dalam periode ini disamping aktif menulis puisi juga aktif menulis naskah Drama seperti Ajim Ariyadi, Hamberan Syahbana ( Drama dan cerpen ), Backtiar Sanderta ( teater Tradisional dan cerpen), Ismed M.Muning (teater tradisional) dan Swastinah MD menulis cerpen.

Sesudah tahun 70-an yakni kurun waktu tahun 80-an, tahun 90-an dan sampai pada tahun 2000-an, sastrawan yang tergolong periode 70-an ini kreatifitas penulisannya mulai menurun bahkan ada yang berhenti sama sekali, masa istirahat, dan ada yang meninggal dunia. Sayangnya mereka baik yang berhenti, masa istirahat mau pun yang meninggal dunia tidak sempat membukukan karya-karyanya antara lain, Ayamudin Tifani setelah meninggal dunia ( 23.09.1951- 06.05.2002 )baru sastrawan lain mencari dan mengumpulkan karyanya yang berserakan disana-sini, kemudian menghimpunnya dalam sebuah antologi puisi Tanah Perjanjian ( Hasta Mitra bekerjasama dengan Yayasan Bengkel Seni’78 Jakarta,2005 ).

Kemudian yang tergolong periode tahun 70-an yang eksis berkarya sampai tahun 2000-an antara lain, Arsyad Indradi, Hamami Adaby dan Eza Thabri Husano. Hamami Adaby ada beberapa karya puisinya yang dibukukan berupa antologi puisi tunggalnya : Desah (84), Iqra (97), Nyanyian Seribu Sungai (2001), Kesumba (2002), Bunga Angin (2003), Dermaga Cinta (2004), Kaduluran ( Puisi Bahasa Banjar,2006). Dan karya bersama antara lain : Banjarbaru Kotaku (74), Dawat (82), Bunga Api (94), Bahalap (95), Pelabuhan (96), Jembatan Asap ( 97), Bentang Bianglala (98),Cakrawala (2000), Tiga Kutub Senja ( Arsyad Indradi,Eza Thabri Husano,Hamami Adaby,2001), Bahana (2001), Narasi Matahari (2002), Notasi Kota 24 Jam (2003), Bula Ditelan Kutu (2004), Anak Zaman (2004), Baturai Sanja ( Bhs Banjar,2004),Bumi Menggerutu (2005), Dimensi (2005),Garunum (2006). Menerima Penghargaan Seniman Sastra dari Walikota Banjarbaru (2004).

Eza Thabri Husano ada beberapa karya puisinya yang dibukukan berupa antologi puisi tunggalnya : Rakit Bambu (1984), Surat Dari Langit ( 1985), Clurit Dusun (1993), Aerobik Tidur (1996). Dan karya bersama antara lain : Banjarbaru Kotaku (74), Dawat (82), Bunga Api (94), Getar (Bulsas Kreatif Kota Batu Jatim (1995), Getar II (Bulsas Kreatif Kota Batu Jatim, 1996), Bangkit III (Bulsas Kreatif Kota Batu Jatim,1996), Bentang Bianglala (98),Datang Dari Masa Depan (1999), Jakarta Dalam Puisi Mutakhir 2000), Cakrawala (2000), Tiga Kutub Senja ( Arsyad Indradi,Eza Thabri Husano,Hamami Adaby,2001), Bahana (2001), Narasi Matahari (2002), Sajadah Kata (2002), Notasi Kota 24 Jam (2003), Bulan Ditelan Kutu (2004), Anak Zaman (2004), Baturai Sanja ( Bhs Banjar,2004),Bumi Menggerutu (2005), Dimensi (2005). Menerima Penghargaan Seni Bidang Sastra dari Gubernur Provensi Kalsel,1996 dan Penghargaan dari Walikota Banjarbaru bidang Sastra, 2004.

Arsyad Indradi baru dapat menghimpun karya puisinya dalam bentuk antologi puisi tunggalnya : Nyanyian Seribu Burung ( KSSB, 2006 ),
Puisi Bahasa Banjar dan Terjemahan Bahasa Indonesia “Kalalatu “ ( KSSB, 2006 ), Romansa Setangkai Bunga ( KSSB, 2006 ), Narasi Musafir Gila ( KSSB, 2006 ), Anggur Duka ( KSSB,2009), Puisi Bahasa Banjar dan Terjemahan Bahasa Indonesia “Burinik” (KSSB,2009), Kumpulan Esai dan Artikel dari beberapa sastrawan Indonesia dengan tajuk : Risalah Penyair Gila (KSSB,2009)
Antologi Puisi bersama antara lain :
Jejak Berlari ( Sanggar Budaya, 1970 ), Edisi Puisi Bandarmasih, 1972, Panorana ( Bandarmasih, 1972), Tamu Malam ( Dewan Kesenian Kalsel, 1992), Jendela Tanah Air ( Taman Budaya /DK Kalsel, 1995), Rumah Hutan Pinus ( Kilang Sastra, 1996),Gerbang Pemukiman ( Kilang Sastra, 1997 ), Bentang Bianglala ( Kilang Sastra,1998), Cakrawala ( Kilang Sastra, 2000 ), Bahana ( Kilang Sastra, 2001 ), TigaKutub Senja ( Kilang Sastra, 2001 ), Bulan Ditelan Kutu ( Kilang Sastra, 2004 ),Bumi Menggerutu ( Kilang Sastra, 2004 ), Baturai Sanja ( Kilang Sastra, 2004 ),Anak Jaman ( KSSB, 2004 ), Dimensi ( KSSB, 2005 ), Seribu Sungai Paris Barantai (2006),Penyair Kontemporer Indonesia dalam Bhs China (2007),Kenduri Puisi Buah Hati Untuk Diah Hadaning (2008),Tarian Cahaya Di Bumi Sanggam (2008),Bertahan Di Bukit Akhir (2008),Pedas Lada Pasir Kuarsa (2009),Konser Kecemasan (2010). Pada tahun 2006 menghimpun puisi dari Penyair Se Nusantara dalam antologi Puisi Penyair Nusantara : “ 142 Penyair Menuju Bulan (KSSB,2006).
Anugrah yang pernah diterima bidang :
Tari dari Majelis Bandaraya Melaka Bersejarah pada Pesta Gendang Nusantara VII Malaysia (2004), Tari dari Majelis Bandaraya Melaka Bersejarah pada Pesta Gendang Nusantara XII Malaysia (2009),
Tari dari Walikota Banjarbaru (2004), Pengawas Seni Budaya Berprestasi I Kabupaten Banjar dan Provinsi Kalimantan Selatan (2009),. Sastra dari Walikota Banjarbaru (2010) dan Sastra dari Gubernur Prov.Kalsel (2010)

Hamberan Syahbana dan Ibramsyah Barbary lama tidak muncul, pada tahun 2008 mereka kembali menulis dan aktif mengikuti kegiatan sastra di Kalsel. Hamberan Syahbana sudah beberapa cerpen ditulisnya, disamping menulis esai dan artikel kesastraan dan juga puisi, sedang Iberamsyah Barbary menghimpun puisinya yang ditulisnya dari tahun 1963 – 2011 dalam antologi puisinya Perjalanan ke Istana Putih. Hamberan Syahbana menerima penghargaan bidang teater oleh Gubernur Provinsi Kalsel,2010.
Demikianlah periodesasi Perkembangan Kesastraan Kalimantan Selatan walau secara singkat namun inilah sebagai perspektif perjalanan Kesastraan Kalimantan Selatan yang hidup dan berkembang dari masa kemasa.

Banjarbaru, 25 Juni 2011

sumber:http://penyairkalsel.blogspot.com/
Share on Google Plus

About FERRY ARBANIA

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar:

Post a Comment

Ferry Arbania , Sahabat Indonesia