SAHABAT FERRY ARBANIA

Belajar dari Kematian News of the World


AP Photo/Sang Tan
James Murdoch (kanan), pemimpin eksekutif News Corporation Eropa dan Asia, bersama Rebekah Brooks (tengah), pemimpin eksekutif News International, dan suaminya, Charlie Brooks (kiri), meninggalkan hotel di pusat kota London, Minggu (10/7). Hari itu, tabloid News of the World menerbitkan edisi terakhir setelah skandal penyadapan telepon.

Satu media massa terkenal di dunia tutup beberapa hari lalu. News of The World namanya. Tabloid itu merupakan milik Rupert Murdoch yang dikenal sebagai bos media yang jaringannya sangat besar. Pemicunya, tabloid itu disangka melakukan penyadapan ilegal terhadap telepon beberapa orang atas suruhan eksekutif di media itu. Padahal, rekam jejak media itu bisa disebut mentereng. Kini, usai sudah kiprahnya.
Demikian laporan pewarta warga Adian Saputra di social media Kompasiana. Berikut tulisan lengkapnya...
Kompas edisi Rabu, 13 Juli 2011, dalam Tajuk Rencananya menulis soal edisi terakhir editorial media itu. “Kami menghargai standar tinggi, kami menuntut standar tinggi, tetapi saat ini kami tahu dengan sangat bersedih hati, selama periode beberapa tahun hingga tahun 2006, sejumlah orang yang bekerja untuk kami, atau atas nama kami, jatuh dengan memalukan di bawah standar tersebut. Mudahnya, kami tersesat. Telepon diretas, dan untuk itu, koran ini benar-benar menyesal.”
Beberapa editor dan wartawan bakal menghadapi tuntutan lantaran tindakan ilegal mereka menyadap telepon. Salah satunya ialah Andy Coulson. Ia bakal membuat Perdana Menteri David Cameron kikuk. Sebab, Andy Coulson adalah Kepala Bagian Pers Cameron setelah mundur dari media itu sesaat setelah Cameron menjadi perdana menteri. Coulson sudah mundur pada Januari lalu sat kasus ini meruyak.
Kejadian seperti kasus di atas membuktikan bahwa media bisa saja salah, baik berkenaan dengan tugas jurnalistiknya, maupun di luar itu. Dalam ranah bisnis, misalnya.
Pers di luar negeri bahkan acap membuat edisi yang berisi permintaan maaf karena salah satu artikelnya mengandung kesalahan fatal.
Majalah The New Republic pernah mengalami hal serupa. Ini majalah prestise. Di pesawat kepresidenan Amerika Serikat, Air Force One, pasti ada majalah ini. Oplahnya bukan yang terbesar, tapi seolah menjadi keunggulan bagi mereka yang sudah membacanya.
Stephen Glass, wartawan muda majalah itu, banyak menulis feature dan artikel menarik lainnya. Tidak ada keluhan dari pembaca dan narasumber atas tulisan Glass. Hingga suatu waktu terjadi perubahan editor (setara pemimpin redaksi) di sana. Editor yang baru, Chuck, tak terlalu disenangi jurnalis lain. Tapi Chuck punya determinasi tinggi dan ketat dalam verifikasi.
Suatu waktu wartawan majalah Forbes Digital dimarahi editornya karena tak menulis soal pertemuan para peretas (hacker) seperti yang ditulis Glass di The New Republic. Si wartawan bingung karena sama sekali tak mendengarnya. Usut punya usut, kejadian itu tak pernah ada. Glass berbohong dan menulis artikel hasil karangan. Dua editor, Forbes Digital dan The New Republic, kemudian sama-sama memverifikasi yang ditulis Glass.
Chuck tegas. Glass mesti dikasih sanksi tegas. Tapi, kolega Glass di The New Republic awalnya tak sepakat. Mereka merasa Glass cuma korban. Akhirnya Chuck ambil langkah tegas. Semua tulisan Glass di majalah diverifikasi. Hasilnya mencengangkan, hampir 90 persen tulisan Glass adalah karangan. The New Republic lalu mengeluarkan edisi khusus permohonan maaf kepada pembaca yang selama ini ditipu oleh Glass. Stephen Glass pun dipecat.
*
Kita mesti jujur, di Indonesia, tradisi itu belum kuat. Saat ada kesalahan cetak nama narasumber saja, media kita abai dengan perbaikan. Bahkan, saat menulis kronologis kejadian saja, masih sering salah. Wujud paling mudah dilihat adalah contoh berikut ini. Cobalah ambil tiga koran lokal di daerah Anda. Baca satu berita yang sama, misalnya kriminalitas. Coba simak nama korban atau nama pelaku, hampir pasti berbeda. Bayangkan, hanya untuk urusan nama, belum yang lain.
Media di Indonesia memang harus banyak belajar. Belajar profesional, belajar disiplin verifikasi, dan belajar rendah hati. Rendah hati? Ya, rendah hati. Bahkan, satu dari sembilan elemen jurnalisme yang diusung Bill Kovach dan Tom Rosensteil dalam buku Sembilan Elemen Jurnalisme, adalah rendah hati. Jadi wartawan tak menjadi insan yang sok, ditakuti, dan disegani. Wartawan adalah warga biasa yang bertugas sebagai pewarta. Dan dengan rendah hati juga seorang Bondan “Mak Nyus” Winarno mampu menginvestigasi kematian misterius geolog perusahaan tambang emas Kanada, BreX: de Guzman.
De Guzman dicari banyak orang karena memberikan keterangan bahwa cadangan emas di Busang sangat besar. Imbasnya, harga saham BreX naik dan semua petinggi korporasi itu menikmati duit yang besar. Tidak terkecuali de Guzman. De Guzman ditemukan “mati” jatuh dari helikopter. Dan Bondan dengan kesungguhan bekerjanya akhirnya “membuktikan” bahwa Guzman belum mati. Ia hanyalah lenyap karena tak mau bertanggung jawab atas kisruh cadang emas di Busang.
Dengan kerendahan hati, semua narasumber mau memberikan keterangan tanpa Bondan menyembunyikan diri status jurnalisnya dalam bekerja. Setiap akan mewawancarai narasumber, ujar penulis-sastrawan Linda Christanty, Bondan terang-terangan mengaku wartawan dan akan menulis buku soal kematian Guzman. Dan Bondan membuktikan dengan kerendahan hati, reportasenya itu selesai dengan judul buku: Sebungkah Emas di Kaki Pelangi. Sayang, buku itu tak pernah saya peroleh. Semasa itu direportase, zaman Presiden Suharto, karya jurnalistik itu dilarang edar karena menyangkut nama Menteri Pertambangan IB Sudjana.
*
Kita berharap media massa Indonesia semakin matang dan rendah hati dalam bekerja. PengalamanNews The World dan The New Republic bisa menjadi ibrah yang paling baik. Ini penting agar media kita semakin bermartabat. Paling tidak Pak Presiden Yudhoyono tak acap curhat soal perlakuan media kepadanya dan kepada partainya: Demokrat. Wallahualam bissawab.

Sumber:http://internasional.kompas.com
Share on Google Plus

About FERRY ARBANIA

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar:

Post a Comment

Ferry Arbania , Sahabat Indonesia