SAHABAT FERRY ARBANIA

Konsep Melayu Besar dan Liciknya Malaysia

Beberapa hari yang lalu, Pak L.K Ara, seorang penyair Besar asal Gayo menulis di status facebooknya
“Tksh sahabat Djazman Zainal dan Dimas sdh mampir ke rumah persinggahan kami di Mess Taman Budaya. Tksh De Kemalawati dan Helmy Hass yang memberi kesempatan kepada tamu kita untuk mencicipi masakan Gayo yang dulu pernah diberikan Puteri Gayo kepada Sulatan Iskandar Muda.”
Terhadap status Pak L.K Ara ini saya yang menjadi teman beliau di facebook berkomentar :
“Tapi hati-hati pak, jangan dibuka semua rahasia bumbunya…karena kita tentu tidak mau mendengar beberapa waktu ke depan MASAKAN GAYO, “jantar pengat” dan “masam jing” sudah diklaim oleh Malaysia.”
Rupanya komentar saya ini memantik rasa nasionalisme seseorang bernama Noor Atan yang tampaknya berasal dari Malaysia.
Lalu dia pun lantas berkomentar :
“Lucu sekali apabila di sini ada seorang yang membicarakan soal “curi” budaya. Apakah dia tahu bahawa pencuri-pencuri itu adalah keturunan etnik yang asal-muasal nya sama. Hanya sekarang perbedaan artifisial setelah terbentuk dua wilayah politik! saya kira Pak Ara bisa mencerahkan hamba allah yang satu ini.
Apa lagi kalau bocara soal Aceh, yang sultannya Iskandar Tsani adalah orang Melayu Pahang.”
Dari yang saya tahu belakangan, berdasarkan komentar dari salah seorang penyair Malaysia yang lain, ternyata kehadiran dua para penyair Malaysia ini ke Aceh ini adalah dalam rangka mewujudkan satu Proyek ambisius bernama MELAYU BESAR yang bermaksud menyatukan semua budaya Sumatra, Kalimantan dan Semenanjung dalam satu kesatuan budaya bernama MELAYU BESAR.
Meminjam apa yang dikatakan oleh Karim Raslan seorang esais asal Malaysia “orang Malaysia seperti saya yang sudah dikondisikan memandang orang lain dengan membeda-bedakan budaya dan agama mereka”.
Menurut Budiawan, Dosen Tidak Tetap Jurusan Sejarah, FIB-UGM, Kompas, 17 Desember 2010 ini adalah ungkapan kejengahan Karim Raslan terhadap chauvinisme di kalangan sebagian orang Melayu Malaysia, yang memandang diri mereka sebagai bagian dari sekaligus menempatkan diri sebagai berada di pusat ”Dunia Melayu” yang besar. baca : http://cetak.kompas.com/read/2010/12/17/05031590/menjembatani.perbedaan.malaysia-indonesia
Jadi dengan mengacu pada informasi yang disampaikan oleh Karim Raslan ini, maka kita pun dapat memahami bahwa proyek MELAYU BESAR ini adalah sebuah proyek MAHA PENTING bagi Malaysia untuk dijadikan sebagai BASIS KLAIM untuk konsep KETUANAN MELAYU yang mereka kembangkan, konsep ala Apartheid yang menempatkan RAS MELAYU melebihi ras-ras lain di negara ini.
Kerena itulah, dalam menanggapi komentar Noor Atan saya mengatakan :
“Iya saya tahu, cuma ada satu etnik di seberang karena minder dan merasa terancam dengan keberadaan cina dan Tamil lalu membuat KETUANAN MELAYU dan menjadi bangang, suka merendahkan suadaranya dan mencuri budayanya dengan alasan BANGSA SERUMPUN. Sampai-sampai yang nggak ada hubungan pun seperti lagu RASA SAYANGE dan ANGKLUNG juga diklaim dengan alasan itu milik bersama sebagai bangsa SERUMPUN.
Sekarang juga sama, saudara PENCURI dari seberang ini, karena merasa minder dengan Cina di negaranya, memanfaatkan kita di sini untuk membuat satu MELAYU BESAR yang sepenuhnya untuk keuntungan si pencuri saja. Pencuri yang ingin mendominasi semuanya, dimana Bugis, Jawa, Batak, Minang asal nusantara ini, semua jadi dikategorikan MELAYU di negaranya.
Bangsa pencuri ini tak mengerti etika dalam budaya. Orang Italia yang ratusan tahun lalu beremigrasi ke Amerika membawa masakan khas mereka, seperti Pasta, Pizza dan Spaghetti, tapi mereka tidak pernah menyebutnya itu masakan Khas Amerika.
Orang Jawa beremigrasi ke Suriname, mempraktekkan budaya Jawa, tapi mereka tak pernah menyebutnya sebagai budaya Suriname.
Ini beda sekali dengan bangsa Pencuri ini, mereka mengundang Saung Angklung Mang Ujo dari Bandung untuk tampil di negaranya, dalam sebuah acara yang bertajuk FESTIVAL BUDAYA MALAYSIA.
Jadi, itulah sebabnya kita harus waspada kalau bangsa pencuri ini mengunjungi kita. Karena di balik wajah ramah dan senyum manisnya, bisa jadi mereka sedang mengamati apa-apa saja budaya yang bisa diklaim dengan alasan bangsa serumpun. Kalau kita tidak waspada, jangan heran kalau nanti masakan kita pun akan mereka klaim sebagai milik mereka.”
Menanggapi komentar ini Noor Atan menjawab:
“Bagus, uraian saudara ini sudah saya tebak dari awal. Perkataan “curi”,”caplok”,”maling” adalah bahasa Media seperti Kompas,Tempo, Metro TV dan sewaktu dengannya. Tidak ada media resmi/official dari pihak Pemerintah RI yang mengeluarkan kata itu.
Bangsa PENCURI ini juga tidak pernah kebakaran jenggot bila ada Serampang Duabelas, Joget Pahang, Seri Kedah, gulai ikan, atau juga rumah Makan Melayu/Minang di pesisir Sumatera Timur, Samarinda dsb.
Wajar saja, provokasi bahasa media swasta yang mengandalkan emosi warga sebagai marketing strategy laris karena ada target mereka dan hasilnya terbukti wujud yang menjadi korban media.
Misalnya Pak L.K Ara keluar masuk negara PENCURI ini diterima sebagai tamu terhormat.Dijamu makanan,diterima dengan penuh hormat. Para pasien yang sakit sudah habis milyaran RP berobat di sononya,datang berobat dah sembuh di negara PENCURI ini malah memilih untuk datang lagi berobat. Dan para PENCURI terpaksa harus sharing fasilitas yang dibina untuk mereka dengan orang lain, tidak pernah diangkat sebagai oleh media provokator sebagai isu. Jadi fikirkan lah dengan jiwa yang tenang.”
Jawaban Noor Atan ini adalah jawaban khas orang Malaysia yang kepalanya dipenuhi dengan doktrin UMNO, yang sama sekali tidak mengerti bagaimana kondisi Indonesia, bahkan dia tidak tahu kalau di Indonesia, pemerintah sama sekali tidak memiliki media resmi seperti di negara mereka. Sikap seperti ini sangat bisa dimaklumi, karena memang pemerintah Malaysia berkepentingan untuk membendung segala informasi positif dari negeri ini. Mereka berkepentingan untuk menunjukkan kepada rakyat mereka kalau kebebasan berbicara di Indonesia ini hanya bersifat merusak.
Ini terbukti sebagaimana disampaikan oleh juru bicara KBRI Kuala Lumpur, Eka A Suripto kepada Antara, 60% berita dari Indonesia yang disampaikan oleh media Malaysia adalah berita negatif baca : http://www.antaranews.com/view/?i=1233048181&c=NAS&s=
Karena itulah, kita tidak perlu heran mengapa orang Malaysia sangat memandang rendah Indonesia dan bahkan mahasiswa Indonesia yang kuliah di malaysia yang sehari-hari bergaul dengan orang Malaysia yang memang dikondisikan untuk selalu memandang Indonesia dengan pandangan negatif, saat pulang ke sini ikut-ikutan  memandang rendah Indonesia dan memuja Malaysia setinggi langit.
Berdasarkan fakta inilah kenapa saya langsung bisa menebak kalau balasan dari Noor Atan ini pasti akan seperti itu, khas DOKTRIN UMNO yang selalu mengkambing hitamkan demokrasi dan kebebasan berbicara dan menyampaikan pendapat di Indonesia ini untuk setiap kecurangan yang mereka  lakukan terhadap negeri ini.
Apa yang tidak disadari oleh Noor Atan adalah, rakyat negeri ini tidak sama dengan di rakyat negerinya yang masih seperti Kerbau dicucuk hidung yang semua opini dan pendapatnya bisa disetir oleh pemerintah mereka, berbeda dengan kita di sini yang sudah menjadi manusia merdeka (setidaknya kalangan kelas menengah) yang sudah terbiasa menilai dan memandang sesuatu masalah berdasarkan akal budi kami, bukan hanya bergantung pada DOKTRIN Pemerintah semata.
Argumen dari Noor Atan yang menjadikan Serampang Duabelas, Joget Pahang, Seri Kedah, gulai ikan dan restoran minang sebagai bukti toleransi Malaysia ketika budaya mereka dipakai di negeri ini jelas merupakan argumen khas manusia yang tidak pernah menggunakan otaknya untuk berpikir secara kritis.
Sebab tentu saja Malasyia tidak mungkin kebakaran jenggot soal itu, karena kalau mereka kebakaran jenggot ketika Serampang Duabelas ditarikan orang di sini dan rumah makan Melayu/Minang ada di sini ya jelas orang Malaysia akan menjadi tertawaan orang sedunia. Sebab siapapun tahu kalau mereka memang SERUMPUN. Cerita semacam Hang Tuah, lagu Lancang Kuning dan sebagainya, tentu saja eksis di Riau dan di Malaysia, karena mereka memang saling berbagi budaya.
Dan kalau mereka mengakui semua budaya itu sebagai budaya mereka, mana ada kita orang Indonesia ribut di sini.
Cuma di sini mereka kita sebut PENCURI kan karena mereka mencaplok lagu RASA SAYANGE , milik orang Ambon, Angklung milik orang Sunda dan Pendet milik Orang Bali yang sama sekali tidak memiliki hubungan kekerabatan dan sejarah apapun dengan mereka. Mau dicari pembenaran pakai teori antropologi dan etnologi manapun, tidak akan ada yang mampu membenarkan PENCURIAN yang mereka lakukan.
Soal Pak L.K Ara yang mereka terima sebagai tamu terhormat di sana karena, ya tentu saja begitu karena mereka memang berkepentingan dengan konsep MELAYU BESAR. Konsep yang sangat penting bagi mereka untuk menunjukkan superioritas mereka atas Cina dan Tamil sekaligus untuk memperkuat arumen Malaysia Boleh , yang merupakan kata lain dari “Melayu Uber Alles”
Kalau kita mau membedah sedikit kondisi psikologis tetangga imut kita yang arogan ini, yang pada tahun 1964 penduduk Melayunya cuma 31% dari jumlah keseluruhan Penduduk dan kondisi trauma yang mereka alami dengan lepasnya Singapura, kita pasti akan sampai pada kesimpulan bahwa konsep MELAYU BESAR yang sedang mereka promosikan di Sumatera ini sebenarnya adalah bentuk ketakutan dari Bangsa PENCURI tetangga kita ini terhadap kekuatan Cina dan Tamil di dalam negeri mereka sendiri.
Sementara bagi kita tidak ada untungnya sama sekali, karena di Indonesia ini pada hakekatnya superioritas ras tidaklah terlalu penting.
Selain karena alasan ketakutan itu, ada alasan lain yang membuat Malaysia begitu berkepentingan dengan adanya konsep budaya MELAYU BESAR ini. Dengan adanya Konsep MELAYU BESAR, mereka otomatis menjadi memperoleh HAK MUTLAK untuk mencaplok semua budaya Sumatera untuk mereka akui sebagai budaya MALAYSIA, dengan alasan kita adalah BANGSA SERUMPUN.
Kalau konsep MELAYU BESAR dapat terwujud, maka MALAYSIA pun akan berhak mengatakan SAMAN, MASAM JING, PENGAT, DIDONG, TARI GUEL, TARI BINES dan semua karya budaya kami di Gayo sebagai BUDAYA MALAYSIA. Karena kita semua adalah satu MELAYU BESAR.
Sebenarnya taktik, niat dan strategi licik bangsa PENCURI tetangga kita ini memang terlalu mudah dibaca. Cuma sayang banyak orang di negeri ini yang sengaja menutup matanya.
Untuk itu saya hanya bisa meminjam kata-kata Bang Napi di acara Sergap….waspadalah…waspadalah!
Wassalam
Win Wan Nur
WNI Asal Gayo
Sumber:http://sosbud.kompasiana.com/2010/12/24/konsep-melayu-besar-dan-liciknya-malaysia/
Share on Google Plus

About FERRY ARBANIA

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar:

Post a Comment

Ferry Arbania , Sahabat Indonesia