Kepada Yth
Pembaca Yang Budiman,
Artikel ini
disampaikan untuk menambah wacana dan referensi untuk memperkaya
pemahaman dan bisa juga untuk tujuan menambah perbendaharaan pengetahuan
ajaran-ajaran jawa semata. Soal benar dan salah ajaran beliau, kami
mohon agar para pembaca bisa arif dan bijaksana. Terima kasih. (Editor)
Ketika dihadapkan pada peradaban
baru, banyak di antara manusia yang memilih jalan yang dianggap benar.
Jalan wali adalah salah satu yang mungkin bisa membawa manusia memasuki
peradaban yang penuh dengan kesadaran untuk menuju Tuhan, karena jalan
wali adalah jalan menuju pembebasan…..
Syekh Siti Jenar adalah salah satu
wali yang memiliki ajaran dan pemikiran kontroversial. Banyak ulama
melihat ajaran Beliu dari sudut pandang tasawwuf dan menjadikan
persoalan yang timbul menjadi lain, karena dianggap menyesatkan tetapi
justru menjadi suatu ajaran yang sudah mencapai derajat ”fana”.
Apa dan bagaimana ajaran dan
pemikiran Syekh Siti Jenar yang telah menemukan ”sejati ning urip” hidup
yang lahir. Apakah ajaran dan pemikiran Beliu dapat kita petik untuk
bekal kehidupan atau malah menyesatkan ….
Mari kita ungkap ajaran-ajaran
Beliu serta membuka misteri yang selama ini masih menjadi teka-teki yang
belum terpecahkan,sbb:
140 AJARAN DAN
PEMIKIRAN SYEKH SITI JENAR
001. …. tidak usah kebanyakan teori
semu, karena sesungguhnya ingsun
(saya) inilah Allah. Nyata ingsun yang sejati, bergelar Prabu Satmata,
yang tidak ada lain kesejatiannya yang disebut sebangsa Allah.
002. Jika ada seseorang manusia yang
percaya kepada kesatuan lain selain Allah SWT, maka ia akan kecewa
karena ia tidak akan memperoleh apa yang ia inginkan.
003. Allah itu adalah keadaanku, lalu
mengapa kawan-kawanku sama memakai penghalang? Dan sesungguhnya aku ini
adalah haq Allah pun tiada wujud dua; saya sekarang adalah Allah, nanti
Allah, dzahir bathin tetap Allah, kenapa kawan-kawan masih memakai
pelindung?.
004. Sebenarnya keberadaan dzat yang
nyata itu hanya berada pada mantapnya tekad kita, tandanya tidak ada
apa-apa, tetapi harus menjadi segala niat kita yang sungguh-sungguh.
005. Tidak usah banyak bertingkah,
saya ini adalah Tuhan. Ya, betul betul saya ini adalah Tuhan yang
sebenarnya, bergelar Prabu Satmata, ketahuilah bahwa tidak ada tuhan
yang lain selain saya.
006. Saya ini mengajarkan ilmu untuk
betul-betul dapat merasakan adanya kemanunggalan. Sedangkan bangkai itu
selamanya tidak ada. Adapun yang dibicarakan sekarang adalah ilmu yang
sejati yang dapat membuka tabir kehidupan. Dan lagi semuanya sama. Tidak
ada tanda secara samar-samar, bahwa benar-benar tidak ada perbedaan
yang bagaimanapun, saya akan tetap mempertahankan tegaknya ilmu
tersebut.
007. Bahwa sesungguhnya, lafadz Allah
yaitu kesaksian akan Allah, yang tanpa rupa dan tiada tampak akan
membingungkan orang, karena diragukan kebenarannya. Dia tidak mengetahui
akan diri pribadinya yang sejati, sehingga ia menjadi bingung.
Sesungguhnya nama Allah itu untuk menyebut wakil-Nya, diucapkan untuk
menyatakan yang dipuja dan menyatakan suatu janji. Nama itu ditumbuhkan
menjadi kalimat yang diucapkan Muhammad
Rasulullah.
008. ….. padahal sifat kafir berwatak
jisim, yang akan membusuk, hancur lebur bercampur tanah. Lain jika kita
sejiwa dengan Dzat Yang Maha Luhur. Ia gagah berani, Maha Sakti dalam
syarak, menjelajahi alam semesta. Dia itu pangeran saya, yang mengusai
dan memerintah saya, yang bersifat wahdaniyah, artinya menyatukan diri denga
ciptaan-Nya. Ia dapat abadi mengembara melebihi peluru atau anak sumpit,
bukan budi bukan nyawa, bukan hidup tanpa asal dari manapun, bukan pula
kehendak tanpa tujuan. Dia itu yang bersatu padu dengan wujud saya.
Tiada susah payah, kodrat dan kehendak-Nya, tiada kenal rintangan,
sehingga pikiran keras dari keinginan luluh tiada berdaya. Maka
timbullah dari jiwa raga saya kearif-bijaksanaan saya menjumpai ia sudah
ada di sana.
009. Syehk Lemah Bang namaku,
Rasulullah ya aku sendiri, Muhammad ya aku sendiri,Asma Allah itu
sesungguhya dirilu, ya akulah yang menjadi Allah ta’ala.
010. Jika Anda menanyakan di mana
rumah Tuhan, maka jawabnya tidaklah sukar. Allah berada pada Dzat yang
tempatnya tidak jauh, yaitu berada dalam tubuh manusia. Tapi hanya orang
yang terpilih saja yang bisa melihatnya, yaitu orang-orang suni.
011. Rahasia kesadaran kesejatian
kehidupan, ya ingsun ini
kesejahteraan kehidupan, engkau sejatinya Allah, ya ingsun sejatinya
Allah; yakni wujud yang berbentuk itu sejati itu sejatinya Allah, sir
(rahasia) itu Rasulullah, lisan (pengucap) itu Allah, jasad Allah badan
putih tanpa darah, sir Allah, rasa Allah, rahasia rasa kesejatian Allah,
ya ingsun (aku) ini sejatinya Allah.
012. Adanya kehidupan itu karena
pribadi, demikian pula keinginan hidup itupun ditetapkan oleh diri
sendiri, tidak mengenal roh, yang melestarikan kehidupan, tiada turut
merasakan sakit ataupun lelah. Suka dukapun musnah karena tidak
diinginkan oleh hidup. Dengan demikian hidupnya kehidupan itu berdiri
sendiri.
013. Dzat wajibul maulana adalah yang
menjadi pemimpin budi yang menuju ke semua kebaikan. Citra manusia
hanya ada dalam keinginan yang tunggal. Satu keinginan saja belum tentu
dapat dilaksanankan dengan tepat, apalagi dua. Nah cobala untuk
memisahkan Dzat wajibul maulana dengan budi, agar supaya manusia dapat
menerima keinginan yang lain.
014. Hyang Widi, kalau dikatakan
dalam bahasa di dunia ini adalah baka bersifat abadi, tanpa antara tiada
erat dengan sakit apapun rasa tidak enak, ia berada baik disana, maupun
di sini, bukan ini bukan itu. Oleh tingkah yang banyak dilakukan dan
yang tidak wajar, menuruti raga, adalah sesuatu yang baru.
015. Gagasan adanya badan halus itu
mematikan kehendak manusia. Di manakah adanya Hyang Sukma, kecuali hanya
diri pribadi. Kelilingilah cakrawala dunia, membubunglah ke langit yang
tinggi, selamilah dalam bumi sampai lapisan ke tujuh, tiada ditemukan
wujud yang mulia.
016. Kemana saja sunyi senyap adanya;
ke Utara, Selatan, Barat, Timur dang Tengah, yang ada di sana hanya
adanya di sini. Yang ada di sini bukan wujud saya. Yang ada dalam diriku
adalah hampa dan sunyi. Isi dalam daging tubuh adalah isi perut yang
kotor. Maka bukan jantung bukan otak yang pisah dari tubuh, laju peasat
bagaikan anak panah lepas dari busur, menjelajah Mekkah dan Madinah.
017. Saya ini bukan budi, bukan
angan-angan hati, bukan pikiran yang sadar, bukan niat, buka udara,
bukan angin, bukan panas, dan bukan kekosongan atau kehapaan. Wujud saya
ini jasad, yang akhirnya menjadi jenazah, busuk bercampur tanah dan
debu. Napas saya mengelilingi dunia, tanah, api, air, dan udara kembali
ke tempat asalnya, sebab semuanya barang baru bukan asli.
018. Maka saya ini Dzat sejiwa yang
menyatu, menyukma dalam Hyang Widi. Pangeran saya bersifat Jalil dan
Jamal, artinya Maha Mulia dan Maha Idah. Ia tidak mau sholat atas
kehendak sendiri, tidak pula mau memerintah untuk shalat kepada
siapapun. Adapun shalat itu budi yang menyuruh, budi yang laknat dan
mencelakakan, tidak dapat dipercaya dan dituruti, karena perintahnya
berubah-ubah. Perkataannya tidak dapat dipegang, tidak jujur, jika
dituruti tidak jadi dan selalu mengajak mencuri.
019. Syukur kalau saya sampai tiba di
dalam kehidupan yang sejati. Dalam alam kematian ini saya kaya akan
dosa. Siang malam saya berdekatan dengan api neraka. Sakit dan sehat
saya temukan di dunia ini. Lain halnya apabila saya sudah lepas dari
alam kematian. Saya akan hidup sempurna, langgeng tiada ini dan itu.
020. Menduakan kerja bukan watak
saya. Siapa yang mau mati dalam alam kematian orang kaya akan dosa.
Balik jika saya hidup yang tak kekak ajal, akan langeng hidup saya, tida
perlu ini dan itu. Akan tetapi saya disuruh untuk memilih hidup ayau
mati saya tidak sudi. Sekalipun saya hidup, biar saya sendiri yang
menetukan.
021. …….Betapa banyak nikmat hidup
manfaatnya mati. Kenikmatan ini dijumpai dalam mati, mati yang sempurna
teramat indah, manusia sejati adalah yang sudah meraih ilmu. Tiada dia
mati, hidup selamanya, menyebutnya mati berarti syirik, lantaran tak
tersentuh lahat, hanya beralih tempatlah dia memboyong kratonnya.
022. Aku angkat saksi dihadapan
Dzat-KU sendiri, susungguhnya tidak ada Tuhan selain Aku. Dan Aku angkat
saksi sesungguhnya Muhammad itu utusan-KU, susungguhny yang disebut
Allah adalah ingsun (aku) diri sendiri. Rasul itu rasul-KU,
Muhammad itu cahaya-KU, aku Dzat yang hidup yang tak kena mati, Akulah
Dzat yang kekal yang tidak pernah berubah dalam segala keadaan. Akulah
Dzat yang bijaksana tidak ada yang samar sesuatupun, Akulah Dzat Yang
Maha Menguasai, Yang Kuasa dan Yang Bijaksana, tidak kekurangan dalam
pegertian, sempurna terang benderang, tidak terasa apa-apa, tidak
kelihatan apa-apa, hanyalah aku yang meliputi sekalian alam dengan
kodrat-KU.
023. Janganlah ragu dan janganlah
menyekutukan, karena engkau adalah keberadaan Allah. Disebut Imannya Iman.
024. Jangalah ragu dan janganlah
menyekutukan, karena engkau adalah tempat manunggalnya Allah. Disebut Imannya Tauhid.
025. Jangalah ragu dan janganlah
menyekutukan, karena engkau adalah sifatnya Allah. Disebut Imannya Syahadat.
026. Jangalah ragu dan janganlah
menyekutukan, karena engkau adalah kewaspadaan Allah. Disebut Imannya Ma’rifat.
027. Jangalah ragu dan janganlah
menyekutukan, karena engkau adalah menghadap Allah. Disebut Imannya Shalat.
028. Jangalah ragu dan janganlah
menyekutukan, karena engkau adalah kehidupannya Allah. Disebut Imannya Kehidupan.
029. Jangalah ragu dan janganlah
menyekutukan, karena engkau adalah kepunyaan dan keagungan Allah.
Disebut Imannya Takbir.
030. Jangalah ragu dan janganlah
menyekutukan, sebab engkau adalah pertemuan Allah. Disebut Imannya Saderah.
031. Jangalah ragu dan janganlah
menyekutukan, karena engkau adalah kesucian Allah. Disebut Imannya Kematian.
032. Jangalah ragu dan janganlah
menyekutukan, sebab engkau adalah wadahnya Allah. Disebut Imannya Junud.
033. Jangalah ragu dan janganlah
menyekutukan, karena engkau adalah bertambahnya nikmat dan anugrah
Allah. Disebut Imannya Jinabat.
034. Jangalah ragu dan janganlah
menyekutukan, karena engkau adalah asma Nama Allah. Disebut Imannya Wudlu.
035. Jangalah ragu dan janganlah
menyekutukan, karena engkau adalah ucapan Allah. Disebut Imannya Kalam.
036. Jangalah ragu dan janganlah
menyekutukan, karena engkau adalah juru bicara Allah. Disebut Imannya Akal.
037. Jangalah ragu dan janganlah
menyekutukan, karena engkau adalah wujud Allah, yaitu tempat
berkumpulnya seluruh jagad makrokosmos,
dunia akhirat, surga neraka,arsy kursi, loh kalam, bumi langit,
manusia, jin, iblis laknat, malaikat, nabi, wali, orang mukmin, nyawa
semua, itu berkumpul di pucuknya jantung, yang disebut alam khayal (ala al-khayal). Disebut Imannya Nur Cahaya.
038. Yang disebut kodrat itu yang
berkuasa, tiada yang mirip atau yang menyamai. Kekuasannya tanpa
piranti, keadaan wujudnya tidak ada baik luar maupun dalam merupakan
kesatuan, yang beraneka ragam.
039. Iradat artinya kehendak yang
tiada membicarakan, ilmu untuk mengetahui keadaan, yang lepas jah dari
panca indra bagaikan anak gumpitan lepas tertiup.
040. Inilah maksudnya syahadat: Asyhadu berarti jatuhnya
rasa, Ilaha
berarti kesetian rasa, Ilallah
berarti bertemunya rasa, Muhammad
berartihasil karya yang maujud dan Pangeran berarti kesejatian hidup.
041. Mengertilah bahwa sesungguhnya
inisyahadat sakarat, jika tidak tahu maka sakaratnya masih mendapatkan
halangan, hidupnya dan matinya hanya sperti hewan.
042. Syahadat allah, allah badan lebur menjadi
nyawa, nyawa lebur menjadi cahaya, cahaya lebur menjadi roh, roh lebur
menjadi rasa, rasa lebur sirna kembali kepada yang sejati, tinggalah
hanya Allah semata yang abadi dan terkematian. (Terjemahan dalam Bahasa
Indonesia).
043. Syahadat Ananing Ingsun, Asyhadu
keberadaan-KU, La Ilaha bentuk wajahku, Ilallah Tuhanku, sesungguhnya
tidak ada Tuhan selain Aku, yaitu badan dan nyawa seluruhnya.
(Terjemahan dalam Bahasa Indonesia).
044. Syahadat Panetep Panatagana yaitu, yang
menjdai bertempatnya Allah, menghadap kepada Allah, bayanganku adalah
roh Muhammad, yaitu sejatinya manusia, yaitu wujudnya yang sempurna.
(Terjemahan dalam Bahasa Indonesia).
045. Kenikmatan mati tak dapat
dihitung ….tersasar, tersesat, lagi terjerumus, menjadikan kecemasan,
menyusahkan dalam patihnya, justru bagi ilmu orang remeh…..
046. Segala sesuatu yang wujud, yang
tersebar di dunia ini, bertentangan denga sifat seluruh yang diciptakan,
sebab isi bumi itu angkasa yang hampa.
047. Shalat limakali sehari adalah
pujian dan dzikir yang merupakan kebijaksanaan dalam hati menurut
kehendak pribadi. Benar atau salah pribadi sendiri yang akan menerima,
dengan segala keberanian yang dimiliki.
048. Pada permulaan saya shalat, budi
saya mencuri, pada waktu saya dzikir, budi saya melepaskan hati,
menaruh hati kepada seseorang, kadang-kadang menginginkan keduniaan yang
banyak, lain dengan Dzat Maha yang bersama diriku, Nah, saya inilah
Yang Maha Suci, Dzat Maulana yang nyata, yang tidak dapat dipikirkan dan
tidak dapat dibayangkan.
049. Syahadat, shalat, dan puasa itu
adalah amalan yang tidak diinginkan, oleh karena itu tidak perlu
dilakukan. Adapun zakat dan naik haji ke Makkah, keduanya adalah omong
kosong. Itu semua adalah palsu dan penipuan terhadap sesama manusia.
Menurut para auliya’ bila manuasia melakukannya maka dia akan dapat
pahala itu adalah omong kosong, dan keduanya adalah orang yang tidak
tahu.
050. Tiada pernah saya menuruti
perintah budi, bersujud-sujud di masjid mengenakan jubah, pahalanya
besok saja, bila dahi sudah menjadi tebal, kepala, berbelang.
Sesungguhnya hal itu tidak masuk akal. Di dunia ini semua manusia adalah
sama. Mereaka semua mengalami suka duka, menderita sakit dan duka
nestapa, tiada bedanya satu dengan yang lain. Oleh karena itu saya, Siti
Jenar, hanya setia pada satu hal, saja, yaitu Gusti Dzat Maulana.
051. ….Gusti Dzat Maulana. Dialah
yang luhur dan sangat sakti, yang berkuasa Maha Besar, lagi pula
memiliki dua puluh sifat, kuasa atas segala kehendak-Nya. Dialah Maha
Kuasa pangkal mula segala ilmu, Maha Mulia, Maha Indah, Maha Sempurna,
Maha Kuasa, Rupa warna-nya tanpa cacat, seperti hamba-Nya. Di dalam raga
manusia ia tiada tanpak. Ia sangat sakti menguasai segala yang terjadi,
dan menjelajahi seluruh alam semesta, Ngindraloka.
052. Hyang Widi, wjud yang tak tampak
oleh mata, mirip dengan ia sendiri, sifat-sifatnya mempunyai wujud,
sperti penampakan raga yang tiada tanpak. Warnanya melambangkan
keselamatan, tetapi tanpa cahaya atau teja, halus, lurus terus menerus,
menggambarkan kenyataan tiada dusta, ibaratnya kekal tiada bermula,
sifat dahulu yang meniadakan permulaan, karena asal diri pribadi.
053. Mergertilah bahwa sesungguhnya
ini syahadat sakarat, jika tidak tahu maka sekaratnya masih mendapatkan
halangan, hidupnya dan matinya hanya seperti hewan.
054. Syekh Siti Jenar mengetahui
benar di mana kemusnahan anta ya mulya, yaitu Dzat yang melanggengkan
budi, berdasarkan dalil ramaitu, ialah dalil yang dapat memusnahkan
beraneka ragam selubung, yaitu dapat lepas bagaikan anak panah, tiada
dapat diketahui di mana busurnya. Syari’at, tarekat, hakekat, dan
ma’rifat musnah tiada terpikirkan. Maka sampailah Syekh Siti Jenar di
istana sifat yang sejati.
055. Kematian ada dalam hidup, hidup
ada dalam mati. Kematian adalah hidup selamanya yang tidak mati, kembali
ke tujuan dan hidup langgeng selamanya, dalam hidup ini adalah ada
surga dan neraka yang tidak dapat ditolak oleh manusia. Jika manusia
masuk surga berarti ia senang, bila manusia bingung, kalut, risih, muak,
dan menderita berarti ia masuk neraka. Maka kenikmatan mati tak dapat
dihitung.
056. Hidup itu bersifat baru dan
dilengkapi dengan panca indera. Panca indera ini merupakan barang
pinjaman, yang jika sudah diminta oleh yang mempunyai, akan menjadi
tanah dan membusuk, hancur lebur bersifat najis. Oleh karena itu panca
indera tidak dapat dipakai sebagai pedoman hidup. Demikian pula budi,
pikiran, angan-angan dan kesadaran, berasal dari panca indera, tidak
dapat dipakai sebagai pegangan hidup. Akal dapat menjadi gila, sedih,
bingung, lupa, tidur dan sering kali tidak jujur. Akal itu pula yang
siang malam mengajak kita berbuat dengki, bahkan merusak kebahagiaan
orang lain. Dengki juga akan menimbulkan kejahatan, kesombongan yang
pada akhirnya membawa manusia ke dalam kenistaan dan menodai citranya.
Kalau sudah sampai sedemikian parahnya manusia biasanya baru menyesali
perbuatannya.
057. Apakah tidak tahu bahwa
penampilan bentuk daging, urat, tulang, dan sumsum busa rusak dan
bagaimana cara Anda memperbaikinya. Biarpun bersembahyang seribu kali
setiap barinya akhirnya mati juga. Meskipun badan Anda, Anda tutupi
akhirnya kena debu juga. Tetapi jika penampilan bentuknya seperti Tuhan,
apakah para wali dapat membawa pulang dagingnya, saya rasa tidak dapat.
Alam semesta ini adalah baru. Tuhan tidak akan membentuk dunia ini dua
kali dan juga tidak akan membuat dunia ini dua kali dan juga tidak akan
membuat tatanan baru.
058. Segala sesuatu yang terjadi di
alam ini pada hakikatnya adalah perbuatan Allah. Berbagai hal yang
dinilai baik maupun buruk pada hakikatnya adalah dari Allah juga. Jadi
sangat salah besar bila ada yang menganggap bahwa yang baik itu dari
Allah dan yang buruk adalah dari selain Allah. Oleh karena itu Af’al allah harus dipahami
dari dalam dan dari luar diri manusia. Misalnya saat manusia
menggoreskan pensil, di situlah terjadi perpaduan dua kemampuan kodrati
yang dipancarkan oleh Allah kepada makhluk-Nya, yaitu kemampuan gerak
pensil. Tanah yang terlempar dari tangan seseorang itu adalah berdasar
kemampuan kodrati gerak tangan seseorang, ”maksudnya bukanlah engkau
yang melempar, melainkan allah yang melempar ketika engkau melempar.
059. Di dunia ini kita merupakan
mayat-mayat yang cepat juga akan menjadi rusak dan bercampur tanah.
Ketahuilah juga bahwa apa yang dinamakan kawulo-gusti tidak berkaitan
dengan seorang manusia biasa seperti yang lain-lain. Kawulo dan Gusti
itu sudah ada dalam diriku, siang dan malam tidak dapat memisahkan
diriku dari mereka. Tetapi hanya untuk saat ini nama kawula-gusti itu
belaku, yakni selama saya mati. Nanti kalau saya sudah hidup lagi, gusti
dan kawulo lenyap, yang tinggal hanya hidupku sendiri, ketentraman
langgeng dalam Anda sendiri. Bial kamu belum menyadari kata-kataku, maka
dengan tepat dapat dikatakan bahwa kamu masih terbenam dalam masa
kematian. Di sini memang terdapat banyak hihuran macam warna. Lebih
banyak lagi hal-hal yang menimbulkan hawa nafsu. Tetapi kau tidak
melihat, bahwa itu hanya akibat panca indera. Itu hanya impian yang sama
sekali tidak mengandung kebenaran dan sebentar lagi akan cepat lenyap.
Gilalah orng yang terikat padanya. Saya tidak merasa tertarik, tak sudi
tersesat dalam kerajaan kematian, satu-satunya yang ku usahakan ualah
kembali kepada kehidupan.
060. Bukan kehendak, angan-angan,
bukan ingatan, pikir atau niat, hawa nafsupun bukan, bukan juga
kekosongan atau kehampaan, penampilanku bagai mayat baru, andai menjadi
gusti jasadku dapat busuk bercampur debu, napsu terhembus ke segala
penjuru dunia, tanah, api, air kembali sebagai asalnya, yaitu kembali
menjadi baru.
061. Bumi, langit dan sebagainya
adalah kepunyaan seluruh manusia. Manusialah yang memberi nama. Buktinya
sebelum saya lahir tidak ada.
062. Sesungguhnya pada hakikatnya
tidak ada perbedaan antara ajaran Islam dengan Syiwa Budha. Hanya nama,
bahasa, serta tatanan yang berbeda. Misalnya dalam Syiwa Budha dikenal
Yang Maha Baik dan Pangkal Keselamatan, sementara dalam Islam kita
mengenal Allah al Jamal
dan as Salam.
Jika Syiwa dkenal sebagai pangkal penciptaan yang dikenal dengan Brahmana maka dalam Islam
kita mengenal al Khaliq.
Syiwa sebagai penguasa makhluk disebut Prajapati, maka dalam Islam kita mengenal al Maliku al Mulki. Jika
Syiwa Maha Pemurah dan Pengasih disebut Sankara, maka dalam Islam kita
mengena ar-Rahman
dan ar-Rahim.
063. Kehilangan adalah kepedihan.
Berbahagialah engkau, wahai musafir papa, yang tidak memiliki apa-apa
maka tidak akan pernah kehilangan apa-apa.
064. Jika engkau kagum kepada
seseorang yang engkau anggap Wali Allah, jangan engkau terpancang pada
kekaguman akan sosok dan perilaku yang diperbuatnya. Sebab saat
seseorang berada pada tahap kewalian, maka keberadaab dirinya sebagi
manusia telah lenyap, tenggelam ke dalam al Waly.
065. Kewalian bersifat terus menerus,
hanya saja saat tenggelam dalam al
Waly. Berlangsungnya Cuma beberapa saat. Dan saat
tenggelam ke dalam al Waly
itulah sang wali benar-benar menjadi pengejawantahan al Waly. Lanaran itu sang
wali memiliki kekeramatan yang tidak bisa diukur dengan akal pikiran
manusia, dimana karamah itu sediri pada hakekatnya pengejawantahan al Waly. Dan lantaran itu
pila yang dinamakan karamah adalah sesuatu diluar kehendak sang wali
pribadi. Semua itu semata-mata kehendak-Nya mutlak.
066. Kekasih Allah itu ibarat cahaya.
Jika ia berada di kejahuan, kelihatan sekali terangnya. Namun jika
cahaya itu didekatkan ke mata, mata kita akan silau dan tidak bisa
melihatnya dengan jelas. Semakin dekat cahaya itu kemata maka kita akan
semakin buta tidak bisa melihatnya.
067. Engkau bisa melihat cahaya
kewalian pada diri seseorang yang jauh darimu. Nemun engkau tidak bisa
melihat cahaya kewalian yang memancar dari diri orang-orang yang
terdekat denganmu.
068. Saya hanya akan memberi sebuah
petunjuk yang bisa digunakan untuk meniti jembatam (shiratal mustaqim)
ajaib ke arahnya. Saya katakan ajaib karena jembatan itu bisa menjauhkan
sekaligus mendekatkan jarak mereka yang meniti dengan tujuan yang
hendak dicapai.
069. Bagi kalangan awan, istighfar
lazimnya dipahami ebagai upaya memohon ampun kepada Allah sehingga
mereka memperoleh pengampunan. Tetapi bagi para salik, istighfar adalah
upaya pembebasan dari belenggu kekakuan kepada Allah sehingga memperoleh
ampun yang menyingkap tabir ghaib
yang menyelubungi manusia. Sesungguhnya di dalam asma al Ghaffar terangkum
makna Maha Pengampun dan juga Maha menutupi, Maha Menyembunyikan dan
Maha Menyelubungi.
070. Semua itu terika itu benar,
hanya nama dan caranya saja yang berbeda. Justru ”cara” itu menjadi
salah dan sesat ketika sang salik melihat menilai terlalu tinggi ”cara”
yang diikutinya sehinga menafikan ”cara” yang lain.
071. Semua rintangan manusia itu
berjumlah tujuh, karena kita adalah makhluk yang hidup di atas permukaan
bumi. Allah membentangkan tujuh lapis langit yang kokoh di atas kita,
sebagaimana bumipun berlapis tujuh, dan samuderapun berlapis tujuh.
Bahkan neraka berlapis tujuh. Tidakkah anda ketahui bahwa suragapun
berjumlah tujuh. Tidakkah Anda ketahui bahwa dalam beribadaaah kepada
Allah manusia diberi piranti tujuh ayat yang diulang-ulang dari Al-Quran
untuk menghubungkang dengan-Nya? Tidakkah Anda sadari bahwa saat Anda
sujud anggota badan Anda yang menjadi tumpuan?
072. Di dunia manusia mati. Siang
malam manusia berpikir dalam alam kematian, mengharap-harap akan
permulaan hidupnya. Hal ini mengherankan sekali. Tetapi sesungguhnya
manusia di dunia ini dalam alam kematian, sebab di dunia ini banyak
neraka yang dialami. Kesengsaraan, panas, dingin, kebingungan,
kekacauan, dan kehidupan manusia dalam alam yang nyata.
073. Dalam alam ini manusia hidup
mulia, mandiri diri pribadi, tiada diperlukan lantaran ayah dan ibu. Ia
beberbuat menurut keingginan sendiri tiada berasal dari angin, air
tanah, api, dan semua yang serba jasad. Ia tidak menginginkan atau
mengaharap-harapkan kerusakan apapun. Maka apa yang disebut Allah ialah
barang baru, direka-reka menurut pikiran dan perbuatan.
074. Orang-orang muda dan bodoh
banyak yang diikat oleh budi, cipta iblis laknat, kafir, syetan, dan
angan-angan yang muluk-muluk, yang menuntun mereka ke yang bukan-bukan.
Orang jatuh ke dalam neraka dunia karena ditarik oleh panca indera,
menuruti nafsu catur warna : hitam, merah, kuning, serta putih, dalam
jumlah yang besar sekali, yang masuk ke dalam jiwa raganya.
075. Saya merindukan hidup saya dulu,
tatkala saya masih suci tiada terbayangkang, tiada kenal arah, tiada
kenal tempat, tiada tahu hitam, merah, putih, hijau, biru dan kuning.
Kapankah saya kembali ke kehidupan saya yang dulu? Kelahiranku di dunia
alam kematian itu demikian susah payahnya karena saya memiliki hati
sebagai orang yang mengandung sifat baru.
076. Kelahiranku di dunia kematian
itu demikian susah payahnya karena saya memiliki hati sebagai orang yang
mengandung sifat baru.
077. Keinginan baru, kodrat, irodat,
samak, basar dan ngaliman )’aliman). Betul-betul terasa amat berat di
alam kematian ini. Panca pranawa kudus, yaitu lima penerangan suci,
semua sifat saya, baik yang dalam maupun yang luar, tidak ada yang saya
semuanya iti berwujud najis, kotor dan akan menjadi racun. Beraneka
ragam terdapat tersebut dalam alam kematian ini. Di dunia kematian,
manusia terikat oleh panca indera, menggunakan keinginan hidup, yang dua
puluh sifatnya, sehingga saya hampir tergila-gila dalam dan kematian
ini.
078. Hidup itu bersifat baru dan
dilengkapi dengan panca indera. Panca indera ini merupakan barang
pinjaman, yang jika sudah diminta oleh yang mempunyai, akan menjadi
tanah dan membusuk, hancur lebur bersifat najis, oleh karena itu panca
indera tidak dapat dipakai sebagai pedoman hidup. Demikian pula budi,
pikiran, angan-angan dan kesadaran, berasal dari panca indera, tidak
dapat dipakai sebagai pandangan hidup. Akal dapat menjadi gila, sedih,
bingung, lupa, tidur dan sering kali tidak jujur. Akal itu pula yang
siang malam mengajak kita berbuat dengki, bahkan merusak kebahagian
orang lain. Dengki juga akan menimbulkal kejahatan, kesombongan yang
pada akhirnya membawa manusia ke dalam kenistaan dan menodai citranya.
Kalau sudah samapai sedemikian parahnya manuasia biasanya baru menyesali
perbuatannya.
079. Apakah tidak tahu bahwa
penampilan bentuk daging, urat, sungsum, bisa merusak dan bagaimana cara
anda memperbaikinya. Biarpun bersembahyang seribu kali tiap harinya
akhirnya mati juga. Meskipun badan anda, anda tutupi akhirnya kena debu
juga. Tetapi jika penampilan bentuknya seperti Tuhan, apakah para wali
dapat membawa pulang dagingnya, saya rasa tidak dapat. Alam semesta ini
adalah baru. Tuhan tidak akan membentuk dunia ini dua kali dan juga
tidak akan membuat tatanan baru.
080. mayat-mayat berkeliaran
kemana-mana, ke Utara dan ke Timur, mencari makan dan sandang yang bagus
dan permata serta perhiasan yang berkilauan, tanpa mengetahui bahwa
mereka adalah mayat-mayat belaka. Yang naik kereta, dokar atau bendi itu
juga mayat, meskipun seringkali ia berwatak keji terhadap sesamanya.
081. Orang yang dihadapi oleh hamba
sahayanya, duduk di kursi, kaya raya, mempunyai tanah dan rumah yang
mewah, mereka sangat senang dan bangga. Apakah ia tidak tahu, bahwa
semua benda yang terdapat di dunia akan musnah menjadi tanah. Meskipun
demikia ia bersifat sombong lagi congkak. Oh, berbelas kasihan saya
kepadanya. Ia tidak tahu akan sifat-sifat dan citra dirinya sebagai
mayat. Ia merasa dirinya yang paling cukup pandai.
082. Di alam kematian ada surga dan
neraka, dijumpai untung serta sial. Keadaan di dunia seperti ini menurut
Syekh Siti Jenar, sesuai dengan dalil Samarakandi ”al mayit pikruhi fayajitu kabilahu”
artinya Sesungguhnya orang yang mati, menemukan jiwa raga dan
memperoleh pahala surga serta neraka.
083. ”Keadaan itulah yang dialami
manusia sekarang” demikian pendapat Syekh Siti Jenar, yang pada akhirnya
Siti Jenar siang malam berusaha untuk mensucikan budi serta menguasai
ilmu luhur dengan kemuliaan jiwa.
084. Di alam kematian terdapat surga
dan neraka, yakni bertemu dengan kebahagian dan kecelakaan, dipenuhi
oleh hamparan keduniawian. Ini cocok dengan dalil Samarakandi analmayit pikutri, wayajidu katibahu.
Sesungguhnya orang mati itu akan mendapatkan raga bangkainya, terkena pahala surga serta neraka.
085. Surga neraka tidaklah kekal dan
dapat lebur, ataupun letaknya hanya dalam rasa hati masing-masing
pribadi, senang puas itulah surga, adapun neraka ialah jengkel, kecewa
dalam hati. Bahwa surga neraka terdapat dia akhirat. Itulah hal yang
semata khayal tidak termakan akal.
086. Sesungguhnya, meurut ajaran
Islam pun, surga dan neraka itu tidak kekal. Yang menganggap kekal surga
neraka itu adalah kalangan awam. Sesungguhnya mereka berdua wajib rusak
dan binasa. Hanya Allah Dzat yang wajib abadi, kekal, langgeng, dan
azali.
087. Sesungguhnya, tempat kebahagian
dan kemulian yang disebut swarga
oleh orang-orang Hindu-Budha, di dalam Islam disebut dengan nama Jannah (taman), yang
bermakna tempat sangat menyenangkan yang di dalamnya hanya terdapat
kebahagian dan kegembiraan. Hampir mirip dengan swarga yang dikenal di
dalam Syiwa-Budha, di dalam Islam dikenal ada tujuh surga besar yang
disebut ’alailliyyin,al-Firdaus,
al-Adn, an-Na’im, al-Khuld, al-Mawa, dan Darussalam.
Di surga-surga itulah amalan orang-orang yang baik ditempatkan sesuai
amal ibadahnya selam hidup di dunia.
088. Sementara itu, tidak berbeda
dengan ajaran Syiwa-Budha yang meyakini adanya Alam Bawah, yaitu neraka
yang bertingkat-tingkat dan jumlahnya sebanyak jenis siksaan, Islam pun
mengajarkan demikian. Jika dalam ajaran Syiwa-Budha dikenal ada tujuh
neraka besar yaitu, Sutala,
Wtala, Talata, Mahatala, Satala, Atala, dan Patala.
Maka dalam Islam juga dikenal tingkatan neraka yaitu, Jahannam, Huthama, Hawiyah, Saqar, Jahim, dal
Wail.
089. Sebetulnya yang disebut awal dan
akhir itu berda dalam cipta kita pribadi, seumpama jasad di dalam
kehidupan ini sebelum dilengkapi dengan perabot lengkap, seperti umur 60
tahun, disitu masih disebut sebagai awal, maka disebut masyriq (timur) yang
maknanya mengangkat atau awal penetapan manusia, serta genapnya hidup.
090. Yang saya sebut Maghrib (Barat)
itu penghabisan, maksudnya saat penghabisan mendekati akhir, maksudnya
setelah melali segala hidup di dunia. Maka, sejatinya awal itu memulai,
akhir mengakhiri. Jika memang bukan adanya zaman alam dunia atau zaman
akhirat, itu semua masih dalam keadaan hidup semua.
091. Untuk keadaan kematian saya
sebut akhirat, hanyalah bentuk dari bergantinya keadaan saja. Adapun
sesungguhnya mati itu juga kiamat. Kiamat itu perkumpulan, mati itu roh,
jadi semua roh itu kalau sudah menjadi satu hanya tinggal
kesempurnaannya saja.
092. Moksanya roh saya sebut mati,
karena dari roh itu terwujud keberadaan Dzat semua, letaknya
kesempurnaan roh itu adalah musnahnya Dzat. Akan tetapi bagi penerapan
ma’rifat hanya yang waspada dan tepat yang bisa menerapkan aturannya.
Disamping semua itu, sesungguhnya semuanya juga hanya akan kembali
kepada asalnya masing-masing.
093. Ketahuilah, bahwa surga dan
neraka itu dua wujud, terjadinya dari keadaan, wujud makhluk itu dari
kejadian. Surga dan neraka sekarang sudah tampak, terbentuk oleh
kejadian yang nyata.
094. Saya berikan kiasan sebagai
tanda bukti adanya surga, sekarang ini sama sekali berdasarkan wujud dan
kejadian di dunia. Surga yang luhur itu terletak dalam perasaan hati
yang senang. Tidak kurang orang duduk dalam kereta yang bagus merasa
sedih bahkan menangis tersedu-sedu, sedang seorang pedagang keliling
berjalan kaki sambil memikul barang dangangannya menyanyi sepanjang
jalan. Ia menyanyikan berbagai macam lagu dengan suara yang terdengar
mengalun merdu, sekalipun ia memikul, menggendong, menjinjing atau
menyunggi barang dagangannya pergi ke Semarang. Ia itu menemukan
surganya, karena merasa senang dan bahagia. Ia tidur di rumah penginapan
umum, berbantal kayu sebagai kalang kepala, dikerumuni serangga
penghisap darah, tetapi ia dapat tidur nyenyak.
095. Orang disurga segala macam
barang serba ada, kalau ingin bepergian serba enak, karena kereta bendi
tersedia untuk mondar-mandir kemana saja. Tetapi apabila nerakanya
datang, menangislah ia bersama istri atau suaminya dan anak-anaknya.
096. Manusia yang sejati itu ialah
yang mempunyai hak dan kekuasaan Tuhan yang Maha Kuasa, serta mandiri
diri pribadi. Sebagai hamba ia menjadi sukma, sedang Hyang Sukma menjadi
nyawa. Hilangnya nyawa bersatu padu dengan hampa dan kehampaan ini
meliputi alam semesta.
097. Adanya Allah karena dzikir,
sebab dengan berdzikir orang menjadi tidak tahu akan adanya Dzat dan
sifat-sifatnya. Nama untuk menyebut Hyang Manon, yaitu Yang Maha Tahu,
menyatukan diri hingga lenyap dan terasa dalam pribadi. Ya dia ya saya.
Maka dalam hati timbul gagagasan, bahwa ia yang berdzikir menjadi Dzat
yang mulia. Dalam alam kelanggengan yang masih di dunia ini, dimanapun
sama saja, hanya manusia yang ada. Allah yang dirasakan adanya waktu
orang berdzikir, tidak ada, jadi gagasan yang palsu, sebab pada
hakikatnya adanya Allah yang demikian itu hanya karena nama saja.
098. Manusia yang melebihi sesamanya,
memiliki dua puluh sifat, sehingga dalam hal ini antara agama
Hindu-Budha Jawa dan Islam sudah campur. Di samping itu roh dan nama
sudah bersatu. Jadi tiada kesukaran lagi mengerti akan hal ini dan semua
sangat mudah dipahami.
099. Manusia hidup dalam alam dunia
ini hanya mengadapai dua masalah yang saling berpasangan, yaitu baik
buruk berpasangan dengan kamu, hidup berjodoh dengan mati, Tuhan
berhadapan dengan hambanya.
100. Orang hidup tiada mersakan ajal,
orang berbuat baik tiada merasakan berbuat buruk dan jiwa luhur tiada
bertempat tinggal. Demikianlah pengetahuan yang bijaksana, yang meliputi
cakrawala kehidupan, yang tiada berusaha mencari kemuliaan kematian,
hidup terserah kehendak masing-masing.
101. Keadaan hidup itu berupa bumi,
angkasa, samudra dan gunung seisinya, semua yang tumbuh di dunia, udara
dan angin yang tersebar di mana-mana, matahari dan bulan menyusup di
langit dan keberadaan manusia sebagai yang terutama.
102. Allah bukan johor manik, yaitu
ratna mutu manikam, bukan jenazah dan rahasia yang gaib. Syahadat itu
kepalsuan.
103. akhirat di dunia ini tempatnya.
Hidup dan matipun hanya didunia ini.
104. Bayi itu berasal dari desakan.
Setelah menjadi tua menuruti kawan. Karena terbiasa waktu kanak-kanak
berkumpul dengan anak, setelah tua berkumpul dengan orang tua.
Berbincang-bincanglah mereka tentang nama sunyi hampa, saling bohong
membohongi, meskipun sifat-sifat dan wujud mereka tidak diketahui.
105. Takdir itu tiada kenal mundur,
sebab semuanya itu ada dalam kekuasaan Yang Murba Wasesa yang menguasai
segala kejadian.
106. Orang mati tidak akan merasakan
sakit, yang merasakan sakit itu hidup yang masih mandiri dalam raga.
Apabila jiwa saya telah melakukan tugasnya, maka dia akan kembali ke
alam aning anung, alam yang tentram bahagia, aman damai dan abadi. Oleh
karena itu saya tidak takut akan bahaya apapun.
107. Menurut pendapat saya. Yang
disebut ilmu itu ialah segala sesuatu yang tidak kelihatan oleh mata.
108. Mana ada Hyang Maha Suci? Baik di dunia maupun di
akhirat sunyi. Yang ada saya pribadi. Sesungguhnya besok saya hidup
seorang diri tanpa kawan yang menemani. Disitulah Dzatullah mesra
bersatu menjadi saya.
109. Karena saya di dunia ini
mati, luar dlam saya sekarang ini, yang di dalam hidupku besok, yang di
luar kematianku sekarang.
110. Orang yang ingin pulang ke
alam kehidupan tidak sukar, lebih-lebih bagi murid Siti Jenar, sebab ia
sudah paham dengan mengusai sebelumnya. Di sini dia tahu rasanya di sana, di sana dia tahu
rasanya di sini.
111. Tiada bimbang akan manunggalnya
sukma, sukma dalam kehingan, tersimpan dati sanubari, terbukalah tirai,
tak lain antara sadar dan tidur, ibarat kaluar dari mimpi, menyusupi
rasa jati.
112. Manusia tidak boleh memiliki
daya atau keinginan yang buruk dan jelek.
113. Manusia tidak boleh berbohong.
114. Manusia tidak boleh mengeluarkan
suara yang jorok, buruk, saru, tidak enak didengar, dan menyakiti orang
lain.
115. Manusia tidak boleh memakan
daging (hewan darat, udara ataupun air).
116. Manusia tidak boleh memakan nasi
kecuali yang terbuat dari bahan jagung.
117. Manusia tidak boleh mengkhianati
terhadap sesama manusia.
118. manusia tidak boleh meminum air
yang tidak mengalir.
119. Manusia tidak boleh membuat
dengki dan iri hari.
120. Manusia tidak boleh membuat
fitnah.
121. Manusia tidak boleh membunuh
seluruh isi jagad.
122. manusia tidak boleh memakan ikan
atau daging dari hewan yang rusuh, tidak patut, tidak bersisik, atau
tidak berbulu.
123. Bila jiwa badan lenyap, orang
menemukan kehidupan dalam sukma yang sungguh nyata dan tanpa bandingan.
Ia dapat diumpamakan dengan isinya buah kamumu. Pramana menampilkannya
manunggal dengan asalnya dan dilahirkan olehnya.
124. tetapi yang kau lihat, yang
nampaknya sebagai sebuah boneka penuh mutiara bercahaya indah, yang
memancarkan sinar-sinar bernyala-nyala, itu dinamakan pramana. Pramana
itu kehidupan badan. Ia manunggal dengan badan, tetapi tidak ambail
bagian dalam suka dan dukanya. Ia berada di dalam badan.
125. Tanpa turut tidur dan makan
tanpa menderita kesakitan atau kelaparan. Bila ia terpisah dari badan,
maka badan ikut tertinggal tanpa daya, lemah. Pramana itulah yang mampu
mengemban rasa, karena ia dihidupi oleh sukma. Kepadanya diberi anugrah
mengemban kehidupan yang dipandang sebagai rahasia rasa nya Dzat.
126. Penggosokan terjadi karena
digerakkan oleh agin. Dari kayu yang menjadi panas muncullah asap,
kemudian api. Api maupun asap keluar dari kayu. Perhatikanlah saat
permulaan segala sesuatu, segala yang dapat diraba dengan panca indera,
keluar dari yang tidak kelihatan tersembunya…..
127. Ada orang yang menyepi dipantai.
Mereka melakukan konsentrasi di tepi laut. Buka dua hal yang mereka
pikirkan. Hanya Pencipta semesta alam yang menjdai pusat perhatiannya.
Karena kecewa belum dapat berjumpa dengan-Nya, maka mereka lupa makan
dan tidur.
128. Badan jasmani disebut cermin
lahir, karena merupakan cermin jauh dari apa yang dicari dalam mencerminkan wajah dia yan ber-paes.
Cermin batin jauh lebih dekat.
129. Siang malam terus menerus mereka
lakukan shalat. Dengan tiada hentinya terdengarlah pujian dan dzikir
mereka. Dan kadang mereka mencari tempat lain dan melakukan konsentrasi
di kesunyian hutan. Luar biasalah usaha mereka, hanya Penciptalahyang
menjadi pusat pandangannya.
130. Badan cacat kita cela, keutamaan
kerendahan hati
kita puji, tetapi keadaan kita ialah digerakkan dan didorong olek
sukma. Tetapi sukma tidak tampak, yang nampak hanya adan.
131. Cermin batin itu bukanlah cermin
yang dipakai orang-orang biasa. Cermin ini sangat istemewa, karena
mendekati kenyataan. Bila kau mengetahui badan yang sejati itulah yang
dinamakan kematian terpilih.
132. Bila engkau melihat badanmu, Aku
turut dilihat … Bila kau tidak memandang dirimu begitu, kau sungguh
tersesat.
133. Sukma tidak jauh dari pribadi.
Ia tinggal di tempat itu jua. Ia jauh kalau dipandang jauh, tetapi dekat
kalau dianggap dekat. Ia tidak kelihatan, karean antara Dia dan manusia
terdapat kekuadaan-Nya yang meresapi segala-galanya.
134. Hyang Sukma Purba menyembunyikan
Diri terhadap peglihatan, sehingga ia lenyap sama sekali dan tak dapat
dilihat. Kontemplasi terhadap Dia yang benar lenyap dan berhenti. Jalan
untuk menemukan-Nya dilacak kembali dari puncak gunung.
135. Tetapi Hyang Sukma sendiri tidak
dapat dilihat. Cepat orang turun dari gunung dan dengan seksama orang
melihat ke kiri ke kanan. Namun Dia tidak ditemukan, hati orang itu
berlalu penuh duka cita dan kerinduan.
136. Hendaklah waspada terhadap
penghayatan roroning atunggil
agar tiada ragu terhadap bersatunya sukma, pengahayatan ini terbuka di
dalam penyepian, tersimpan di dalam kalbu. Adapun proses terungkapnya tabir penutup alam gaib,
laksana terlintasnya dlam kantuk bagi orang yang sedang mengantuk.
Penghayatan gaib itu datang laksana lintasan mimpi. Sesungguhnya orang
yang telah menghayati semacam itu berarti telah menerima anugrah Tuhan.
Kembali ke alam sunyi. Tiada menghiraukan kesenangan duniawi. Yang Maha
Kuasa telah mencakup pada dirinya. Dia telah kembali ke asal mulanya…..
137. Mati raga orang-orang ulama yang
mengundurkan diri di dalam kesunyian hutan ialah hanya memperhatikan
yang satu itu tanpa membiarkan pandangan mereka menyinpang. Mereka tidak
menghiraukan kesukaran tempat tinggal mereka hanya Dialah yang
melindungi badan hidup mereka yang diperlihatkan. Tak ada sesuatu yang
lain yang mereka pandang, hanya Sang Penciptalah yang mereka perhatikan.
138. Yang menciptakan mengemudi
dunia adalah tanpa rupa atau suara. Kalbu manusia yang dipandang
sebagai wisma-Nya. Carilah Dia dengan sungguh-sungguh, jangan sampai
pandanganmu terbelah menjadi dua. Peliharalah baik-baik iman
kepercayaanmu dan tolaklah hawa nafsumu.
139. Bila kau masih menyembah dan
memuji Tuhan dengan cara biasa, kau baru memiliki pengetahuan yang
kurang sempurna. Jangan terseyum seolah-olah kau sudah mengerti, bila
kau belum mengetahui ilmu sejati. Itu semua hanya berupa tutur kata.
Adapun kebenaran sejati ialah meninggalkan sembah dan pujian yang
diungkapkan dengan kata-kata.
140. Sembah dan puji sempurna ialah
tidak memandang lagi adanya Tuhan, serta mengenai adanya sendiri tidak
lagi dipandang. Papan tulis dan tulisan sudah lebur, kualitas tak ada
lagi. Adamu tak dapat diubah. Lalu apa yang masih mau dipandang. Tiadak
ada lagi sesuatu. Maklumilah.
Dinukil dari alangalangkumitir.wordpress.com
Ferry Arbania , Sahabat Indonesia