Thursday, August 20, 2020

Pendukung Achmad Fauzi -Pilkada Sumenep 2020

|Ferry Arbania|Sumenep–Warganet makin riuh saja dijelang Pilkada Sumenep yang dijadwalkan KPU bakal diselenggarakan pada 9 Desember 2020.

Di medis sosial facebook, netizen ramai-ramai menolak menjadi relawan “pengkot” alias terikat dan memilih merdeka dalam menentukan pilihan Calon Bupati Achmad Fauzi.

SELENGKAPNYA

>>>>>

Selamat Merayakan 1 Muharram 1442 H

|Ferry Arbania|- Umat Islam menyambut datangnya
1 Muharram 1442 H yang jatuh pada Kamis 20 Agustus 2020.

Untuk menyemarakan datangnya Tahun Baru Islam bisa dilakukan dengan saling mengirim ucapan selamat

Berikut 60 ucapan selamat Tahun Baru Islam 1 Muharram 1442 H, yang cocok untuk dibagikan atau menjadi status di WhatsApp ( WA ) Facebook dan Instagram (IG).



Artikel ini telah tayang di tribunkaltim.co dengan judul Kumpulan Ucapan Selamat Tahun Baru Islam 1 Muharram 1442 H, Cocok Dikirim Lewat WA Atau Status FB, https://kaltim.tribunnews.com/2020/08/20/kumpulan-ucapan-selamat-tahun-baru-islam-1-muharram-1442-h-cocok-dikirim-lewat-wa-atau-status-fb.
Penulis: Januar Alamijaya
Editor: Rafan Arif Dwinanto

Thursday, February 20, 2020

Rumah Bonsai Sumenep Ternyata Ada di Desa Karay Kecamatan Ganding

|Ferry Arbania|Banyak orang tak menyangka kalaun kehidupan masyarakat Desa Karay yang berada di Kecamatan Ganding Kabupaten Sumenep penuh dengan bonsai.

Bonsai-bonsai nan indah itu mereka gali bahannya dari alam bebas. Sebagin besar anak muda ini sudah puluhan tahun silam dikenal sangat terampil membentuk bonsai-bonsai berkelas. Maka tak heran, ada yang menjualnya dengan harga puluhan juta rupiah.

Seiring jaman digitalisasi, anak muda di Dusun Mandala, Desa Karay ini pun menjual Bonsai mereka secara online dan offline.
Bonsai serut hasil karya Rumah Bonsai Sumenep 

Bahkan, saking majunya bonsai di daerah ini, anak mudanya membuat komunitas sesama pecinta bonsai yang diberi nama RUMAH BONSAI SUMENEP (RBS).

 Rumah bonsai ini jiga menjadi Galeri jual beli bonsai yang memudahkan masyarakat luas yang hendak berkunjung atau ingin membeli bonsai karya anak kampung yang kreatif ini. Silahkan anda WA: 081934935500 (Rumah Bonsai Sumenep). Salam settong ate..

Jurnalis Dan "Binatang" Yang Diberi Harkat Manusia

|Ferry Arbania|

Bagi kalangan koruptor ataupun pelaku kriminal hingga penjahat kelamin lainnya, kehadiran para jurnalis (bisa jadi) dianggap  sebagai gerombolan "binatang" (baca:Akulah Binatang Jalang seperti sajaknya Chairil Anwar) yang kerap pembawa sial sekaligus dinilai sebagai pengacau bagi kepentingan konspirasi besar mereka.
" Yah itu pasti ada yang menyebut (baca:menyumpahi) kita dengan sebutan binatang. Tak apalah!  kalaupun ada yang setega itu. Bisa jadi pula mereka itu  tak terima kejahatannya di publikasi dalam bentuk berita. Saya memang Jurnalis dan saya adalah binatang," demikian kira-kira dialog imajenir saya dengan para jahannam itu. Astaghfirullah.
Tapi...  Kalau di pikir-pikir, kita semua ini memang binatang yang disempurnakan oleh Allah Swt menjadi paling indahnya mahluk. Derajat kemahlukan kita pun diangkat dengan dipasangnya akal dalam otak manusia. Akal inilah yang kemudian menjadi pembeda antara binatang beneran dengan kita yang dipercayai Allah SWT sebagai khalifah di muka bumi. Lantas kenapa masih bersemayam sifat-sifat binatang dalam diri kita, dalam karya-karya jurnalistik kita yang kadang juga "dibinatangi" oleh para penjahat intelektual itu? 
Jawabnya hanya satu, " Penghianat! " Berhianat atas apa dan siapa yang dihianati?  Kalian disini, dalam kalimat yang baru saja saya penggal ini, adalah kumpulan jiwa-jiwa yang rakus, penjilat dan mungkin menjadi barisan pengemis yang menyaru jadi jurnalis. Siapa jurnalis yang mengemis itu?
Jawabnya tinggal satu, yakni kalian yang menjadikan berita sebagai alat untuk mengeruk keuntungan. (Yang tidak berkhianat silahkan senyum bangga deh... Heee heee..)
Maka disinilah, ketika ada yang menyebut jurnalis, wartawan,kuli tinta, juru kamera ataupun reporter binatang, maka berbahagialah. Dengan begitu, berarti kemanusiaan kita sudah teruji. Dan tak perlu lagi "Uji kompetensi Jurnalistik", sebab berita bukanlah ajang kompetisi.  Berita yang yang lahir dari tangan jurnalis yang menengadahkan tangan kepada ketentuan Tuhannya, (bukan kepada kekuasaan), maka disiniah KODE ETIK JURNALISTIK yang sebenarnya memahkotai.
Sampai akhirnya, legitimasi tertinggi dalam penentu media abal-abal dan kredibel itu adalah menjadi hak publik. Publik paling jujur menilai kerja keras para jurnalis. Lantas, untuk apa kita marah pada segelintir maling berdasi, sumpah serapah para koruptor? Bukankah sudah sangat jelas maqamnya. Kebenaran telah menjadi pembeda yang sangat jelas anatar Jurnalis versus Binatang. Bahkan dengan kualitas kemanusiaan kita yang tak pandai menyembunyikan kepalsuan.
Teruslah berkarya sahabat Jurnalis, biarkan binatang itu keluar dari mulut mereka yang sakit. Maka apa maksud dari judul tulisan ini yang sengaja saya beri judul : Jurnalis dan "Binatang" Yang Diberi Harkat Manusia.  Maksudnya adalah untuk kembali mengingtkan diri kita yang lahir tanpa sehelai benangpun apalagi profesi Jurnalis. Maka,  kesimpulannya adalah, jangan sampai kita kembali menjadi binatang hanya karena berprofesi jurnalis. 
Percayalah,  sesuai dengan fitrahnya, Pengertian  "Harkat manusia" dalam judul tulisan ini adalah sebagai alarm, bahwa sebenarnya kita semua memiliki harkat atau nilai sebagai mahluk Tuhan yang dibekali dengan daya cipta, rasa, dan karsa serta hak - hak dan kewajiban asasi manusia "Mator Sakalangkong". (*)

Wednesday, February 19, 2020

Menjadi Jurnalis Itu Takdir

Sejak kelas empat Madrasah Ibtidaiyah di kampung halaman, hari-hari kecil saya selalu diajar oleh guru dan lingkungan keluarga untuk selalu memahami apa itu manusia, kenapa harus sekolah, kenapa pulaperlu belar akhlak dan bertatakrama?
Selebihnya, orang-orang didekat saya, guru dan lingkungan religi, secara tak langsung mengajariku untuk memahami keadaan, meski kuyakin seusiaku dulu tak mampu memahaminya dengan baik. Namun satu hal yang sampai sekarang membekas, yakni sajak cinta dan puisi kehidupan. Hari-hari oenuh puisi hingga jurusan sastra di ruang kampus. Tapi.. Entahlah, Tuhan "menyeret" ku kedalam kubangan Jurnalis yang penuh sakwa sangka. Sampai pada bertamu sesungguhnya, ada mata dan hati yang menyelipkan curiga sembari membisik orang disekitarnya, "Hati-hati bicara,yang ngomong sama kita ini wartawan loh", kira-kira begitylu redaksinya. Sedih juga sih, kalau niat tulus bersilaturrahim kemudian dicurigai sebagai "pemancing dan perekam" pembicaraan". Dunia profesi yang berkaitan dengan berita-berita ini sungguh jauh berbeda dengan "alam" puisi yang penuh imajenasi tanpa tersakiti. Bahkan Lebih bersahabat orang-orang itu ketika saya masih sibuk sebagai pwnulis puisi dan penyiar radio yang punya ribuan fans setia selama bertahun-tahun.

Apakah aku menyesal jadi jurnalis? Sepertinya tidak dan justru sangat tertantang. Di dunia wartawan inilah puisi dan kemampuan diksiku semasa jadi penyiar radio bermanfaat "plus". Kenapa begitu?  Karena selama menjadi wartawan, Alhamdulillah saya diberi kekuatan oleh Allah swt untuk menjadikannya sebagai media dakwah dalam mengungkap kebenaran dan membela orang-orang tertindas, meski kadang harus jatuh bangun tak kebagian kue iklan. Maklum, beritanya terlalu "Memukul" (bersambung)

*maaf kl banyak yg salah ketik. Sengaja tdk diedit krn lg sibul bikin video Youtube #MaduraExpose

Friday, December 06, 2019

Andai Terwujud Debat Terbuka Rocky Gerung Vs Jokowi Soal Paham Pancasila

https://youtu.be/UtSv0zmP7L4

Sunday, October 13, 2019

Laporkan

Info Kami:

10 Cara Bijak Menghadapi Perceraian

|Ferry Arbania| Perceraian, bagi kebanyakan orang, bukan menjadi pilihan mengatasi masalah hubungan. Namun tak sedikit juga pasangan yang ...